Skip to content

Raihlah Mimpi dengan Hati

May 6, 2014

Siang ini waktu ku lewatkan pada seorang tokoh agrobisnis yang pemikirannya benar-benar frontal namun penuh makna. Setelah mencoba mensejahterakan petani lewat perjuangannya di organisai Gabungan Kelompok Tani, sekarang sang bapak lebih banyak menyendiri, merenungi segala hambatan yang ia alami selama ini.

Semua seolah pernah dirasakannya. Kekayaan, popularitas, jabatan, pengaruh di masyarakat, ajaran yang di ‘gugu’ oleh banyak orang, dan tentu saja dengan itu semua, kata-katanya bisa ditukar dengan rupiah dalam seminar. Tapi sekarang bapak ini seolah sudah tidak mengharapkan itu semua lagi. Ia hanya ingin petani sejahtera, dan ia sadar itu bukan hal mudah untuk dilaksanakan mengingat benturan birokrasi yang membuatnya memilih untuk mengasingkan diri. Demi kode etik, saya tidak bisa menyebutkan nama si bapak dalam artikel ini. Anggap saja bapak ini bernama Pak Bina, karena fungsinya sebagai pembina petani.

lahan sayur

Pak Bina sekarang menyewa sebuah lahan di lereng gunung seluas setengah hektar, menyulapnya menjadi kebun sayur, dan membangun sebuah rumah mungil di sudut lahan. Sendirian hidup di hutan beliau merasa tenteram dengan kehidupannya saat ini, jauh dari hiruk pikuk keduniaan yang ternyata hanya menghasilkan kepuasan sesaat. Dengan kesendirian, rupanya Pak Bina sekarang menjadi sosok relijius, lebih memaknai hidup dengan rasa syukur bagaimanapun caranya.

Berdiskusi dengan bapak satu ini memang seperti berdiskusi dengan seorang filusuf. Kita dibawa ke segala penjuru dunia sebelum sampai pada sebuah kesimpulan. Tetapi bagaimanapun diskusi ini cukup bermakna, sekaligus cukup membuat miris bagi siapa saja yang masih punya nasionalisme terhadap bangsa Indonesia.

cottage_a_ext

Setelah secangkir kopi dan sepiring singkong goreng disajikan di teras rumahnya yang sejuk, saya mengawali pembicaraan dengan sebuah pertanyaan, bagaimana prediksi beliau menghadapi perdagangan bebas ASEAN tahun depan.

“Itu bagus”, sambutnya mantap. Lalu dijelaskannya lah peluang akan pasar yang makin luas. Kita bisa menjual aneka produk kemana saja tidak lagi terbatas pada pasar dalam negeri. Ketika saya kejar tentang kemungkinan balik dimana justru produk luar yang membanjir dan kita yang kewalahan menerima barang murah, beliau tetap ngotot dengan argumennya bahwa kita tetap bisa menang asal disiplin.

Tetapi yang saya tangkap dibalik persetujuannya adalah justru pendapat yang berkebalikan. Artinya, saya merasa bahwa sebenarnya jawaban yang disiapkannya adalah, “kayak gitu kok masih ditanyakan”. Artinya pasar bebas bagaimanapun akan merugikan bangsa Indonesia, tanpa perlu banyak alasan.

Hal ini tersirat dari cerita Pak Bina berikutnya. Bahwa ketika beliau jaya, beliau banyak berhubungan dengan pegawai-pegawai pemerintah yang terkait dengan bidang pertanian. Tetapi para oknum tersebut bukannya membuat petani sejahtera, namun justru memperalat petani untuk menarik dana proyek, dan setelah dana turun maka uang itu dihambur-hamburkan. Bagi sana bagi sini, sebagian saja yang sesuai peruntukannya, pembangunan pertanian. Mentalitas penguasa di bidang pertanian sudah hancur lebur tidak ada lagi yang namanya integritas. Visi dan misi departemen pertanian hanya pepesan kosong saja, intinya adalah membuat program fiktif agar dana cair dan jatuh ke tangan oknum.

Beliau yang sesekali menyisipkan ayat Al Qur’an dalam mempertajam pendapatnya, menyebutkan bahwa kerusakan akhlak yang sudah sedemikian masiv ini membuat tingkat kepercayaan pada orang Indonesia berada pada titik nadir. Seorang penjual benih padi, bisa saja memasukkan padi yang dipungut dari sembarang tempat ke dalam plastik, lalu ditempeli label, dijual dengan harga 2-3 kali lipat dari harga yang seharusnya. Kayak gitu kok pakai tanya dampaknya pada perdagangan bebas?

Di bidang birokrasi, pemerintah tidak paham bagaimana seharusnya merekrut petugas penyuluh lapangan (PPL). Dia menyayangkan PPL yang notabene adalah pegawai, justru menjadi seorang instruktur para petani ketika petani dalam masalah. Dicontohkannya nasihat Bob Sadino, jika mencari instruktur renang, carilah orang yang bisa berenang. Jangan hanya teori. Jadi, menurut beliau, PPL harusnya pengusaha agrobisnis yang sudah berhasil. PPL datang di siang hari ketika petani mencangkul adalah juga sebuah kesalahan fatal. “Bagaimana petani bekerja, kalau jam kerjanya diganggu dengan kunjungan PPL, undangan rapat ke dinas, dan sebagainya?”, sambungnya tegas.

Aku hanya manggut-manggut dibuatnya. cerita selanjutnya lebih mencengangkan. Banyak oknum PPL yang sengaja meminta petani untuk memberikan balas jasa atas kemudahan akses proposal yang telah diusahakannya. Bayangkan jika 1 PPL membina 20 kelompok tani, dan masing-masing memberi upeti kepadanya, gajinya sebulan seolah menjadi tidak berarti lagi jika dibandingkan dengan upeti yang diterima. Bukankah ini korupsi? Tapi petani memberikannya secara suka rela?

Aku hanya termenung membayangkan nasib bangsa ini nanti bagaimana. Bagaimanapun kalau pertanian secara nasional ingin berhasil, maka harus ada komandannya, dalam hal ini pemerintah. Kalau pemerintah diisi oleh orang-orang korup yang lebih mementingkan perutnya sendiri, bagaimana pertanian bisa maju?

Di akhir diskusi si bapak menyampaikan petuah yang menyejukkan. Bahwa dulu beliau berapi-api semangatnya membangun Gapoktan sampai mendapat penghargaan menjadi gapoktan terbaik nasional. Setelah itu beliau bermimpi menjadikan Gapoktan-nya menjadi Gapoktan percontohan nasional. Berbagai strategi dan kerja keras sudah dilakukannya. Termasuk kampanye kepada seluruh kelompok tani agar tidak memberikan apapun kepada PPL jika mendapat bantuan dari pemerintah.

Rupanya banyak pihak -terutama oknum pegawai pemerintah- yang tidak suka dengan kebijakannya. Perlahan-lahan beliau pun disingkirkan. Mulai dari jebakan undangan rapat yang tidak sampai kepada beliau sampai dengan upaya adu domba dengan menjelek-jelekkan nama beliau di mata petani, bahkan sampai kepada tuduhan penyalah gunaan anggaran, akhirnya si bapak memutuskan untuk menjauh dari hiruk pikuk dunia pertanian yang sudah melambungkan namanya. Beliau tidak mau berhubungan dengan orang dinas yang menyengsarakan petani, menyewa lahan di tempat terpencil, menerima konsultasi para petani yang masih menaruh kepercayaan padanya, dan tidak mau tahu lagi ketika mengetahui gapoktan yang dipimpinnya dulu sekarang vakum.

Beliau tidak menyalahkan siapa-siapa. Beliau merasa yang salah adalah dirinya. Dia merasa selama ini dirinya telah dikuasai oleh ambisi untuk mewujudkan mimpinya membuat sesuatu yang dahsyat, seolah semua bisa dilakukan dengan kedua tangannya tanpa melibatkan Sang Pencipta. Sekarang beliau merasa manakala kita punya mimpi, langkahkan kaki untuk wujudkan mimpi tersebut, tetapi hati tetap harus ingat bahwa berhasil tidaknya mimpi tercapai semua tergantung pada keputusan Allah SWT. Keseimbangan antara usaha dan do’a akan membuat hidup selalu merasa cukup. Dulu beliau merasa sangat kecewa saat semua mimpinya melayang… tapi sekarang beliau justru merasa bersyukur karena menemukan tujuan yang lebih indah… tempat dimana kita tidak memiliki rasa takut, benci dan kecewa terhadap apapun… karena beliau sekarang berada di tempat yang membuat hati tertata….

afta

Perdagangan bebas ASEAN nya gimana Pak?

Sebelum pertanyaan itu keluar, kuurungkan niat. jawabannya sudah kudapat.  Apapun yang kuharapkan dari AFTA, aku harus melangkah dengan menyertakan hati dan yakin bahwa semua membutuhkan keterlibatan Sang Pencipta, Allah Azza wa jalla…. Subhanallah…

From → economic

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: