Skip to content

Low Cost Green Car

September 13, 2013

Lewat peraturan pemerintah terbaru, sekarang kesempatan memperoleh mobil baru semakin mudah. Adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41/2013 tentang Regulasi Mobil Murah dan Ramah Lingkungan(Low Cost Green Car/ LCGC) yang memungkinkan pabrikan menjual mobil murah ke pasaran Indonesia. Daihatsu, Toyota dan Honda sudah meresponnya dengan kehadiran Ayla, Agya dan Brio Satya yang dilepas dengan harga 75 – 115an juta.

Image

Tentu saja ini akan baik untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu negara dimana banyak orang yang sudah bisa beli mobil. Tetapi melihat keadaan lalu lintas Indonesia yang semakin semrawut seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang hasilnya bisa mengurangi kepadatan lalu lintas yang sudah di atas kewajaran. Mobil murah jelas akan membuat jalan-jalan makin padat, makin macet. Rakyat Indonesia selalu terbukti bermental konsumtif. Jadi respon akan mobil2 murah seperti ini pasti sangatlah tinggi. Sementara mobil-mobil tua tetap saja diperbolehkan berkeliaran di jalanan.

Gubernur Jakarta, Jokowi, sudah menyampaikan keluhannya pada kebijakan tersebut. Tetapi pemerintah bergeming. Dengan dalih memberi kesempatan warga menengah ke bawah untuk memiliki mobil, maka seharusnya semua pihak mendukung kebijakan ini, demikian penjelasan Menteri Perindustrian MS Ka’ban. Kecemasan Jokowi bisa dimaklumi. Usahanya mati-matian menertibkan pedagang di Tanah Abang bisa jadi sia-sia karena jumlah mobil meningkat pesat.

Bukan  hanya Jokowi, tetapi juga Pertamina, Peningkatan jumlah mobil akan meningkatkan pula konsumsi BBM. Sementara kita tahu BBM kita adalah BBM bersubsidi. Makin banyak konsumsi, makin banyak subsidi. Pertanyaannya apakah konsumsi BBM tersebut benar-benar bermanfaat? Atau pertanyaan yang lebih kritis, sudah siapkah rakyat jika BBM kembali dinaikkan?

Parahnya lagi peningkatan jumlah mobil di Indonesia tidak disertai dengan peningkatan aturan kedisiplinan dalam berkendaraan. Kasus Afriyani Susanti dengan Xenia maut-nya serta Abdul Qadir Jaelani anak 13 tahun yang bisa mengemudikan sedan mewah di jalan tol adalah contoh betapa lemah pengawasan pemerintah terhadap antisipasi kecelakaan di jalan umum. Bisa jadi kita lagi asyik minum es cendol di pinggir jalan, sebuah mobil menghampiri kita karena pengemudinya belum lihai.

Pertanyaan untuk Anda. Apakah anda punya SIM? Bagaimana cara anda mendapatkan SIM? Dengan ujian?Atau dengan jalur cepat?

Saya dapat SIM A sebelum saya punya keberanian mengemudi mobil di jalan umum. Saya keluar uang Rp. 400.000,-. Polisi menguji saya dengan ujian tertulis. Lalu diarahkan untuk ujian praktek di kantor polres. Tetapi disana cuma cukup foto dan selesai. Saya punya SIM A. Secara pribadi saya senang. Tetapi sebagai orang yang ingin melihat masyarakat Indonesia tertib dan disiplin, saya prihatin. Ini berarti orang yang tak bisa mengemudi sekalipun bisa punya SIM A dengan modal yang tidak sedemikian besar. Saya makin tercengang ketika melihat tariff SIM A di kantor Polres yang bahkan tidak sampai menyentuh angka Rp. 200.000,- . Benar- benar bisnis yang menarik, gumam saya dalam hati.

Entah seperti apa nasib negeri ini nanti jika kebijakan-kebijakan gila semacam ini terus berlanjut. Saya curiga ada uang di balik keputusan pemerintah. Saya hanya berharap jiwa pengabdian benar-benar tertanam di jiwa para pemimpin.

From → social

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: