Skip to content

Pariwisata Berbasis Syariah

August 28, 2013

Teman saya mengirim sebuah pesan via Blackberry seputar usaha franchise sebuah restoran yang sudah cukup terkenal. Ketika seorang Muslim ingin menjadi franchisee dari restoran ini, beliau terkejut dengan penjelasan pihak manajemen, dimana siapa saja yang mau bekerja sama, restoran ini mewajibkan penggunaan angciu dan  minyak babi dalam masakannya. Ketika sang Muslim ‘complain’ karena dua bahan masakan tersebut adalah haram , pihak restoran santai-santai saja menjawabnya. “Kita tidak memakai label halal, jika Anda tidak tertarik dengan bisnis kami ya sudah”.

Sebuah pesan singkat yang membuahkan keprihatinan ketika menyadari bahwa restoran ini sudah cukup terkenal dan berkembang pesat di Indonesia. Dan saya yakin banyak yang belum sadar bahwa masakan di restoran ini menggunakan zat-zat yang di haram kan secara syar’i. Dan sungguh miris bahwa yang seperti ini terjadi di sebuah negara muslim sebesar Indonesia. Akan lebih elegan jika rumah makan ini menyebutkan di dalam menu ataupun tempat-tempat srategis bahwa masakan yang tersaji menggunakan minyak babi dan angciu. Bukannya diam-diaman dan hanya menghilanghkan label halal, yang notabene kurang diperhatikan konsumen karena mereka keburu lapar.

Image

Ini adalah sebuah gambaran singkat betapa perlunya standarisasi kehalalan atau label syariah dalam restoran. Saya kemudian teringat pada sebuah diskusi singkat dengan seorang kawan saya dari Malaysia. Dia bilang bahwa alam Indonesia sangat indah dan ingin datang kembali. Tentu saja saya senang dengan sanjungan tersebut. Tetapi supaya tidak terkesan sombong dengan kekayaan alam yang dimiliki negeri ini, saya coba alihkan pembicaraan dengan topik yang lebih netral. “Kapan ada waktu? Kita jalan-jalan ke Thailand yuk…” . Dan jawaban yang saya peroleh sungguh di luar dugaan, “Daripada ke Thailand, lebih baik kamu ke Kinabalu atau ke beberapa tempat di Malaysia. Di Thailand susah mencari makanan halal”.

Alasan pertama mungkin agak subyektif karena mempromosikan negaranya, tetapi alasan kedua membuat saya manggut-manggut. Benar juga kata teman saya yang di Malaysia ini. Saya kira bermodalkan buku semacam lonely planet saja tidak cukup untuk datang ke sebuah negara non muslim seperti Thailand, karena saya juga perlu informasi rumah makan yang menyajikan makanan halal, dan murah.

Tetapi fakta yang saya dapatkan kemudian lebih mencengangkan. Bersumber dari Kompas yang terbit medio Juni 2013, saya dapat informasi bahwa ratusan ribu turis dari Timur Tengah yang notabene muslim, datang berwisata ke Thailand. Lho, bagaimana mungkin? Apakah mereka yang tinggal di dekat ka’bah tidak peduli dengan makanan halal dan haram? Sementara saya yang sudah setahun mengamati wisatawan luar negeri yang datang ke Yogyakarta –daerah tujuan wisata utama di Indonesia- jarang menemukan turis dari Timur Tengah.

Ternyata Thailand sudah menerapkan suatu paket wisata yang berbasis pada syariah. Meskipun mereka bukan negara muslim, namun mereka sadar bahwa umat Islam adalah juga pasar buat mereka. Maka mereka kemudian menyiapkan paket wisata khusus ke Thailand dengan memberikan fasilitas berupa hotel yang menyajikan makan-minuma halal, restoran juga demikian, member kesempatan untuk beribadah pada waktu sholat, sehingga wisatawan muslim tidak perlu khawatir bahwa mereka akan kehilangan kesempatan beribadah untuk dapat menikmati keindahan Thailand.

Lebih mencengangkan lagi, hal yang sama juga diterapkan di Korea, Jepang, China dan juga Malaysia. Jika Pemerintah Indonesia tidak segera berbenah, maka para wisatawan muslim dari Timur Tengah yang duitnya segunung itu tidak akan pernah tertarik untuk datang ke negeri ini.

From → social

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: