Skip to content

Dahlan

November 9, 2012

Saya adalah penggila politik dalam negeri pada medio 1998 ketika gelora reformasi membahana di segala penjuru. Sejuta harapan membuncah laksana negeri ini akan meluncur menjadi negara yang cemerlang disegani di seluruh dunia. Kebobrokan demi kebobrokan yang selama ini tertutup mulai terkuak. Para ahli pun mulai mengungkapkan teori renovasi sehingga bangunan kokoh NKRI seolah sudah di ambang masa.

Tetapi seperti lagu Betharia Sonata, janji janji tinggal janji, bulan madu hanya mimpi. KKN alias Korupsi Kolusi dan Nepotisme adalah penyakit akut bangsa kita dimana ibarat tanaman yang terserang hama obatnya seolah hanya pembasmian semua batang dan daun yang sudah tua untuk dimunculkan lagi tunas-tunas baru. Gebrakan semacam apapun tidak akan mempan menyembuhkan penyakit kronis ini.


Dan setelah perubahan dalam negeri terjadi, dimana DPR bisa pilih langsung, Kepala Daerah bisa pilih langsung, pers makin bebas, tetapi korupsi tetap terjadi, dan penguasa tetap berusaha menutu-nutupi, saya mulai malas bicara politik dalam negeri. Saya mulai malas kalau TV sudah menayangkan Ruhut Sitompul. Hanya buang-buang waktu dengar omong kosongnya. Saya juga mulai malas kalau media menayangkan komentar Marzuki Ali yang komentarnya sama sekali tidak masuk akal. Entah kenapa wartawan mau menayangkan komentar-komentar murahan macam itu. Menyimak sepakbola liga eropa lebih menarik dan membuat awet muda, karena sepakbola nasional juga tak kalah ruwet daripada politiknya. Century dan Hambalang adalah bukti konkrit pengurasan kas negara, tetapi pemerintah berusaha menutup mata pada kasus ini. Saya juga mulai tidak percaya lagi dengan partai-partai Islam yang seolah malah mendukung pembungkaman kasus century. Sekali lagi, bicara soal wajah Mourinho yang cemberut jauh lebih menarik.

Tetapi belakangan ada berita yang membuat saya kembali tertarik dengan perpolitikan dalam negeri. Bukan cuma kemenangan Jokowi dan juga gebrakan-gebrakannya pada 100 hari pertama, tetapi juga keberanian Meneg BUMN Dahlan Iskan untuk mengungkap penyakit kronis yang selama ini tertutupi, yaitu adanya oknum anggota DPR pemeras BUMN. Sudah menjadi rahasia umum jika anggota DPR ataupun DPRD selalu rajin minta upeti pada sejumlah proyek yang menggunakan uang negara. Nasionalisme mereka benar-benar berada di titik nadir. Konon itu adalah salah satu cara untuk balik modal dari investasi yang mereka keluarkan untuk pemilihan langsung periode sebelumnya. Kalau ada untung tahun depan maju lagi. Tanpa rasa cinta pada bangsa, penentu kebijakan negeri ini telah membawa bangsa Indonesia ke jurang kehancuran. Setiap ketemu orang asing, nyaris tidak ada lagi yang saya banggakan pada mereka tentang negeri ini. Awalnya saya mencoba menutup aib, namun lama-lama capek juga.

Kembali ke Dahlan, saya benar-benar berharap Dahlan mendapat dukungan. Memang banyak suara miring karena Dahlan yang sebelumnya menyebut 10 nama, tiba-tiba hanya menyebut 2 nama. Tetapi jarang orang berfikir bahwa Dahlan punya kesempatan untuk diam, tidak usah menyebutkan semua nama, dan dia dapat upeti dari masing-masing nama. Jadi penyebutan 2 nama adalah sebuah gebrakan luar biasa bagi pembangunan negeri ini. Jika tradisi upeti ini bisa menimbulkan efek takut di kalangan anggota DPR, maka keuangan negara akan banyak yang terselamatkan. Lantas, bagaimana harus maju jadi anggota DPR kalau tidak pakai cara sepeti itu? Maju ya maju saja. Daftar, sosialisasi program, kalah ya sudah.

Ada juga yang bilang ini adalah pengalihan perhatian dari pemborosan anggaran PLN 37 triliun semasa kepemimpinan Dahlan. Tetapi esensi dari masalah yang diledakkan Dahlan ini juga cukup signifikan. Entah Dahlan bersalah atau tidak soal PLN, tetapi upeti buat anggota dewan ini harus tetap diusut. Semisal Dahlan besok pagi dicopot dari jabatannya sebagai menteri, lembaga terkait harus serius melacak oknum2 DPR dan juga DPRD yang menyimpangkan anggaran negara. Ini adalah kejahatan luar biasa yang membuat hati rakyat sakit luar biasa.

Jadi saya tidak peduli apakah Dahlan itu orang bersih atau bukan, apakah dia terkait dengan Yahudi atau tidak, apakah dia cuma melakukan politik pencitraan atau tidak, tetapi masalah yang dia ungkap benar-benar membuat saya punya sedikit harapan untukmenyanyikan lagu Betharia Sonata yang lain, Kau tercipta hanya untukku…..

From → political

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: