Skip to content

Jika Jokowi Jakarta 1

June 23, 2012

10 tahun lalu, siapa yang kenal Joko Widodo? Pengusaha mebel ini tiba-tiba menjadi pejabat publik setelah memenangkan pemilihan walikota Solo (yang disebutnya sebagai ‘kecelakaan’). Dibalik pembawaannya yang kalem dan sederhana, Solo diubah menjadi kota yang lebih punya visi dengan tetap mempertahankan predikatnya sebagai Kota Budaya.

Tidak ada hingar bingar mall dan hypermarket ataupun jejaring minimarket. Tidak ada pembangunan infrastruktur yang wah di Kota Bengawan ini. Namun prioritasnya untuk menyelamatkan ekonomi rakyat telah membuat Solo punya karakter.

Ketika tiba-tiba namanya muncul sebagai kandidat calon gubernur DKI, banyak yang heran dan bertanya-tanya, apa bisa? Karena karakter Solo dan Jakarta beda jauh. Solo sebuah kota yang menjadi pusat budaya Jawa (disamping Jogja) yang terkenal adhem ayem sepi ing pamrih rame ing gawe. sedangkan Jakarta? sangat bertolak belakang. Programnya yang merakyat seolah menghambat pembangunan yang menjadi icon perekonomian modern, seolah tak sesuai sama sekali jika diterapkan di Jakarta. Kota metropolitan yang dipadati gedung pencakar langit yang sampai sekarang tetap terus saja dibangun entah sampai kapan. Kota yang punya bahasa khas lu gue, lu lu gue gue, dimana sangat kental dengan nuansa individualis yang semua selalu dibandingkan dengan materi. Kota yang menjadi jantung perekonomian negara, dimana keputusan-keputusan besar yang berhubungan dengan kekayaan alam di seantero negeri diputuskan di kota ini. Kota tempat berkumpulnya semua etnis yang datang dengan membawa kepentingan beragam. Kota yang ‘sama sekali’ tidak level jika dibandingkan dengan Surakarta.

Tapi pikiran Anda pasti akan berubah setelah melihat sepak terjangnya selama masa kampanye. Diusung partai besar (PDI Perjuangan) yang memiliki mesin partai yang luar biasa di Jakarta, menggandeng etnis tionghoa sebagai wakilnya, didukung dengan reputasinya dalam memimpin sebuah organisasi pemerintahan, Jokowi pelan tapi pasti mulai merebut hati warga. Apalagi didukung dengan program-programnya yang menjanjikan terobosan-terobosan yang luar biasa.

Di bidang transportasi, Jokowi dengan lantang menyalahkan pembangunan jalan tol di tengah kota serta pembangunan jalan layang untuk mengurangi kemacetan. Alasannya, kemacetan hanya akan hilang ketika melintasi jalan itu, namun ketika keluar jalanan macet lagi. Pengembangan transportasi publik jauh lebih utama dan jika itu yang terjadi kemungkinan warga Jakarta akan berpikir ulang untuk memakai kendaraan pribadi. Dengan menyentil anggaran gubernur yang mencapai 140 Triliun selama 5 tahun menjabat (hampir 50 kali lipat dengan anggaran kota solo yang hanya 3 T), perbaikan sarana transportasi bukan sesuatu yang mustahil.

‘Kartu Jakarta Sehat’ yang juga disiapkannya untuk memberi pengobatan gratis kepada warga Jakarta, sepertinya akan menjadi pertimbangan juga bagi pemilih yang sudah mulai cerdas dengan mengabaikan iming-iming dana instan dari kandidat lain, karena kita tahu bahwa kita dan keluarga sangat rentan berhadapan dengan masalah kesehatan. Ide ini tidak muncul begitu saja, tetapi dengan pengalamannya menerapkan hal yang sama di kota Solo yang hanya memiliki anggaran 19 M, wajar jika ia optimis program ini akan sukses karena DKI punya anggaran 600 M.

‘Kartu Jakarta Pintar’ adalah juga terobosan yang lain di bidang pendidikan. Dimana tunjangan pendidikan bagi warga Jakarta disiapkan.

Dan gaya Jokowi kembali muncul pada program tentang perbaikan pasar tradisional. Perbaikan sarana fisik, kemudahan bagi pedagang kecil, dan perbaikan etika para satpol PP. Penghapusan Perda pajak Warteg juga bisa menjadi daya tarik sendiri untuk mendapat suara pemilih dari pedagang kecil.

Jokowi adalah penggemar musik rock. Kenyataan ini akan memungkinkan untuk mendongkrak suaranya dengan meraih simpati kaum muda. Apalagi bersama calon wakilnya (Ahok), ia menyempatkan diri mengunjungi markas grup musik Slank di Jakarta.

Jokowi yang jarang berada di kantor, lebih sering berada di lapangan, menentang budaya suap dan bahkan tidak ambil gaji selama jadi walikota Solo, menjadi sebuah kartu kunci tersendiri yang membuatnya lebih populer dibanding kandidat-kandidat lainnya, bahkan dengan calon incumbent sekali pun.

Kelemahan Jokowi sepertinya terletak pada kelompok Muslim. Walaupun Jokowi juga seorang muslim, namun partainya serta kebijakan-kebijakannya sangat jarang mengakomodir masalah keagamaan, khususnya Islam. Apalagi PKS sebagai Partai Islam juga punya calon yang mumpuni yang merupakan mantan Ketua MPR. Kalau kita ingat calon PKS sebelumnya, Adang Dorojatun, meski kalah dalam Pilkada, namun suara yang diperolehnya cukup signifikan (sekitar 40%). Beliau kalah karena yang dihadapi adalah wakil gubernur yang punya senjata birokrasi yang cukup kuat. Sehingga di Jakarta, kekuatan PKS tidak bisa dipandang sebelah mata.

Memang ada berita-berita miring yang menyebutkan Jokowi (bersama Dahlan Iskhan) dibalik pencitraan mereka yang sederhana, low profile, mendapat simpati masyarakat, keduanya terlibat zionisme, paham Yahudi yang digambarkan sebagai penyembah setan, dimana ketamakan menjadi panglima dalan setiap tindakannya. Hanya saja faktanya kurang kuat.

Benar tidaknya berita itu sebenarnya tidak perlu dirisaukan, karena selama tindakan-tindakan mereka lebih mengedepankan kepentingan publik dan tidak ada pamrih pribadi, selama fungsi pemimpin yang ideal tetap berjalan, maka rakyat pula nantinya yang akan merasakan manfaatnya.

Saya bukan tim sukses Jokowi…. Saya hanya mengharapkan di negeri ini ada sebuah pemerintahan yang ‘menarik’ yang bisa dijadikan teladan bagi yang lain, dimana harapan itu saya rasa ada pada Jokowi. Memang banyak calon pemimpin yang selama ini terbukti hanya mengumbar janji. Namun Jokowi dengan Solo-nya bisa menjadi pembeda.

Bagaimana jika Jokowi kalah? Setidaknya program-programnya telah membuka mata masyarakat untuk tahu bagaimana seharusnya membangun Jakarta. Setidaknya pemikiran tim sukses Jokowi nanti bisa dijadikan bahan komparasi dengan kebijakan-kebijakan gubernur yang terpilih. Jika Jokowi kalah, setidaknya…. Jokowi masih tetap menjadi walikota Solo.

From → political

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: