Skip to content

JAMPERSAL

April 26, 2012

Pada kesempatan ini saya tidak akan membahas masalah kesehatan meskipun menggunakan judul yang identik dengan rumah sakit. Saya lebih ingin mengkomparasikan kehidupan sosial di Indonesia dengan di Negara-negara maju untuk kemudian mengajak Anda semua menelaah apakah kebijakan Jampersal sudah tepat atau belum.

Kita hidup di dunia yang semakin aneh. Kita sering mengajari anak-anak untuk berbuat jujur tapi kita sendiri kadang-kadang main telikung. Artinya kita memberi pemahaman kepada generasi usia dini yang kita sendiri masih kurang paham. Banyak yang bilang jaman sekarang tanpa telikung menelikung tidak akan bisa makan. Banyak pula yang bilang tidak apa-apa sekali-kali berbuat yang tidak benar, karena kalau tidak gitu ga bisa jalan. Contohnya adalah ketika Saya ke Semarang kena tilang. Polisi bilang melanggar lampu merah. Saya merasa tidak melanggar, seingat saya waktu jalan lampu masih kuning. Semua (polisi dan saya) tentu saja berhak akan pendapat masing-masing. Prosedur yang benar adalah surat saya (STNK) ditahan kemudian saya mengikuti sidang pada hari yang telah dijadwalkan untuk mempertahankan pembelaan saya. Sidangnya dimana? Ya di Semarang. Padahal rumah saya di Jogja, masa harus jauh-jauh ke Semarang untuk menyelesaikan masalah sepele seperti itu. Polisi minta uang damai 50 ribu. Saya tentu saja dihadapkan pada masalah yang pelik. Simpel tapi melanggar kebenaran hakiki atau tetap ikut sidang dengan resiko meluangkan waktu ke semarang, membatalkan acara-acara saya pada hari yang telah ditetapkan, mengeluarkan biaya pulang pergi Jogja-Semarang yang kemungkinan bisa lebih dari 50 ribu. Dan meski hati saya menolak, saya memilih jalan yang praktis.

Itu contoh kecil. Contoh yang mendasari bagaimana proses pengadaan barang, pemenangan tender, pemerlancar jabatan, mencari pekerjaan serta ‘bahkan’ memasukkan anak ke sekolah favorit terjadi. Dengan jalan pintas kita sudah lupa dengan kebenaran hakiki yang sering kita ajarkan pada anak kecil. Tapi kita juga tidak mungkin mengajari anak-anak bahwa bohong itu boleh asal tujuannya baik. Tidak mungkin.

Kenapa bisa begini? Intinya adalah karena cari makan makin susah. Kue yang ada diperebutkan secara masiv sehingga siapa yang punya kekuatan dia yang akan makan kenyang. Ini adalah fakta yang membuat saya sering melakukan introspeksi diri untuk mencari dimana letak kesalahan pemahaman saya tentang dunia karena kalau dikaitkan dengan ajaran agama kita tidak boleh berprasangka seperti itu. Bahwa Yang di Atas itu Maha Adil, yang mengatur perputaran rejeki yang kita tidak perlu risau karenanya.

Namun di sisi lain kita (bagi yang muslim) diminta meneladani Nabi Muhammad yang punya sifat fathonah yang artinya cerdas. Sehingga kita harus sering-sering menelaah pengalaman di masa lalu untuk menjadi pelajaran di masa depan agar permasalahan sejenis tidak terulang lagi. Jadi semoga tulisan ini bukan untuk menentang hokum Asmaul Husna dimana salah satu sifat-Nya adalah Yaa Adl yang artinya Yang Maha Adil, namun untuk mensyukuri nikmat-Nya berupa akal pikiran untuk memecahkan masalah yang tengah melanda kita saat ini.

Inti masalah dari susahnya cari makan adalah jumlah penduduk yang meledak. Pertumbuhan lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja. Baby booming adalah persoalan serius di muka bumi. Sehingga Negara-negara maju yang memang juga maju akal pikirannya atau bisa juga dikatakan lebih fathonah dibandingkan Negara-negara terbelakang, telah membuat warganya terbuka mata pikirannya untuk berfikir secara serius akan dampak dari jumlah anak yang mereka miliki. China menerapkan satu keluarga hanya boleh punya satu anak, karena jumlah penduduknya sudah di amabang batas kewajaran. Negara-negara maju seperti Singapura dan Jepang bahkan punya kecenderungan dimana warganya enggan punya anak di usia muda karena masih ingin berkarir, dan bahkan sebagian enggan menikah karena dampak psikologis dari sebuah keluarga yang akan menambah pikiran jika ia berkarir. Namun di luar itu semua, fenomena tersebut bisa jadi juga disadari kalau mereka menikah dan punya anak maka jumlah penduduk akan semakin besar dan kesejahteraan akan semakin berkurang karena jumlah kue tetap sementara yang rebutan makin banyak. Maka dengan kesadaran sendiri akan dampak pertumbuhan penduduk bagi Negara, mereka mulai berfikir kapan harus punya anak dan berapa jumlahnya. Jadi atas nama nasionalisme kadang-kadang ada warga Negara yang memilih tidak mempunyai keturunan.

Tetapi ada juga yang memilih tidak punya keturunan karena karier. Untuk kasus seperti ini Negara (baca: Singapura) bahkan harus membuat program stimulan dengan memberikan sejumlah tertentu hadiah bagi warganya yang mau punya anak.

Bagaimana dengan kita?

Nasionalisme kita rendah. Pendidikan juga belum begitu bagus. Jika dulu Pak Harto cukup sukses dengan program KB dua anak cukup, sekarang seiring tumbangnya rezim beliau tumbang pula jargon tadi. Rakyat mulai lagi ke jaman dulu dengan mempunyai anak yang banyak. Mereka tidak berfikir soal biaya hidup yang semakin tinggi dan persaingan mencari nafkah yang makin sulit. Bahkan rakyat seolah tidak sadar bahwa persaingan mencari makan sekarang tidak hanya dengan sesama saudara sebangsa namun dengan orang-orang dari Negara lain. Tambang Freeport misalnya, lalu Newmont, Cepu, KFC, Microsoft, Nokia adalah alat-alat yang membuat kekayaan kita beralih ke orang asing.

Dan diantara program asuransi kesehatan pemerintah yang seolah malah menambah kemungkinan membludaknya jumlah penduduk Indonesia adalah Jaminan Persalinan (Jampersal). Dengan persalinan yang gratis, pendidikan yang gratis, ada Jamkesmas pula untuk rakyat miskin, apalagi yang harus dirisaukan hidup di negeri zamrud khatulistiwa ini? Maka Jampersal pun akan membuka kemungkinan bagi masyarakat untuk punya anak dan punya anak lagi. Soal biaya pendidikan dan kesehatan mereka biar pemerintah yang urus.

Lalu sampai kapan kita bisa begini? Dengan penduduk yang semakin banyak, bukan tidak mungkin pemerintah justru kolaps dengan beratnya beban pembiayaan asuransi-asuransi kesehatan semacam itu. Untuk Jamkesmas, Jamkesda, Jamsostek boleh lah karena itu akan membantu kesusahan masyarakat. Tetapi dengan Jampersal? Kesusahan selama persalinan memang terbantu, namun setelah itu akan muncul ledakan penduduk yang tidak lagi terkendali.

Akan lebih baik jika Jampersal hanya diperuntukkan untuk kelahiran anak pertama saja. Dengan demikian akan mendidik masyarakat untuk mengendalikan jumlah penduduk, mendidik masyarakat untuk menjadi bangsa yang fathonah.

From → social

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: