Skip to content

Tanyakanlah Siapa Lawan Barcelona di Final

April 5, 2012

Itulah yang keluar dari mulut Mourinho ketika 4 tim semifinalis sudah memastikan tiket di semifinal Liga Champions 2011/2012. Itu juga sebuah respon yang keluar dari orang Portugal itu terhadap pertanyaan seputar peluang Real Madrid bertemu dengan mantan tim yang pernah ditanganinya, Chelsea. Awalnya Saya mengira itu adalah pengakuan The Special One terhadap ketangguhan Barca, karena belum juga pertandingan Barcelona vs Chelsea dimulai seolah dia sudah yakin bahwa rival abadi klubnya (Real Madrid) lah yang akan melenggang ke final. Sementara Los Blancos, dengan nada yang terkesan rendah hati, menurutnya belum tentu lolos ke final karena harus berhadapan dengan lawan yang sepadan (Bayern Muenchen).

 

Begitu baik hatikah Jose Mourinho? Lalu kemana tabiat kontroversialnya selama ini? Apakah dia sudah semakin dewasa, yang mana itu berarti dia menyesali sifat arogannya di masa lalu yang menunjukkan ketidak dewasaan? Awalnya itu yang muncul di pikiran saya. Sebuah keajaiban di dunia sepak bola.

Tapi setelah menelaah lebih dalam, ternyata tidak. Mou tetap arogan. Namun arogansinya kali ini dia sampaikan secara halus. Yang sebenarnya ingin ia sampaikan adalah bahwa Barcelona pasti akan lolos ke final karena bantuan wasit. Barcelona pasti akan juara karena sebuah konspirasi. Sedangkan timnya harus berjuang selama 2x 90 menit dengan kemungkinan menang dan kalah yang sama besar. Dan ini bukan tuduhan mengada-ada, mengingat kelolosan Barca ke semifinal juga hasil dari sebuah keputusan kontroversial yang diberikan wasit Bjorn Kuipers atas pinalti kedua el Barca terhadap AC Milan. Dan itu bukan kali pertama El Barca diuntungkan wasit. Mou sendiri sudah 3 kali bertemu Barca di liga Champions dan selalu merasa dicurangi meski pernah memenagi laga melawan mereka tatkala membawa Inter Milan menjadi kampiun.

Lebih lengkapnya bisa dilihat dari fakta berikut :

CHELSEA 1-1 BARCELONA
6 Mei 2009: laga kedua semi-final

Rivalitas Chelsea dan Barcelona sudah dihangatkan dengan perang urat syaraf yang dilontarkan Jose Mourinho kepada Frank Rijkaard dua musim sebelumnya. Pada pertandingan ini, Chelsea ditangani Guus Hiddink, sebagai manajer sementara, dan berhasil melaju ke semi-final dengan menahan imbang Barcelona tanpa gol pada laga pertama.

Pada menit kesembilan di Stamford Bridge, Michael Essien membawa Chelsea unggul. Setelahnya, permainan fisik sekaligus disiplin Chelsea mampu membuat Barcelona kesulitan mengembangkan permainan. Saat menyerang, setidaknya ada lima kesempatan yang bisa menghasilkan penalti kepada Chelsea, mulai dari dua kali kaus Didier Drogba yang ditarik Eric Abidal, Dani Alves menjatuhkan Florent Malouda di dalam kotak penalti tetapi hanya diberikan tendangan bebas, serta handball yang dilakukan Gerard Pique dan Samuel Eto’o. Semuanya diabaikan wasit Tom Henning Ovrebo.

Andres Iniesta mencetak gol dramatis di ujung pertandingan untuk membawa Barcelona ke final Liga Champions berkat keunggulan gol tandang. Namun, kemenangan itu seperti tertutupi kepemimpinan kontroversial wasit Ovrebo.

BARCELONA 1-0 INTER
24 April 2010: laga kedua semi-final

Pertandingan ini paling dikenang karena ulah Sergio Busquets yang tak ubahnya bertindak seperti seorang aktor. Barcelona menderita kekalahan 3-1 pada laga pertama di markas Inter sehingga berjuang membalasnya di Camp Nou.

Di pertengahan babak pertama, Busquets terjatuh setelah diterpa lengan Thiago Motta. Alih-alih kartu kuning, rupanya wasit Franck De Bleeckere memberikan kartu merah langsung kepada Thiago. Kejadian yang memicu kontroversi terjadi ketika Busquets tertangkap kamera tengah mengintip dari balik tangannya untuk melihat apakah aktingnya berhasil mempengaruhi keputusan wasit.

Barcelona berhasil memenangi laga ini 1-0, tetapi tetap gagal melangkah ke final. Keberpihakan wasit De Bleeckere ditepis karena dia menganulir gol Bojan Krkic di akhir pertandingan setelah menangkap Yaya Toure telah lebih dahulu menyentuh bola dengan tangan. Dengan gol itu Barcelona sebenarnya dapat melaju ke babak puncak.

BARCELONA 3-1 ARSENAL
8 Maret 2011: laga kedua babak 16 besar

Sebelum Kuipers yang “terlalu mudah” memberikan keputusan, Massimo Busacca sudah memulainya.

Barcelona harus membalikkan kekalahan 2-1 yang diderita dari Arsenal pada laga pertama babak 16 besar Liga Champions musim ini. Mereka mendominasi pertandingan dan unggul 1-0 hingga babak pertama. Keunggulan itu dibuyarkan gol bunuh diri Sergio Busquets delapan menit setelah babak kedua dimulai. Beberapa menit setelahnya, muncul lah kejadian kontroversial.

Robin van Persie diberikan kartu kuning kedua karena menendang bola meski wasit sudah meniup peluit tanda terjadi off-side. Busacca menilai Van Persie mengabaikan peluitnya, sedangkan penyerang andalan Arsenal itu merasa tidak mendengar bunyi peluit sampai setelah menendang.

Apapun, keputusan wasit sudah dijatuhkan. Tanpa sang kapten, Arsenal menyerah 3-1 setelah Barcelona berhasil menambah dua gol tambahan dengan memanfaatkan keunggulan jumlah pemain.

REAL MADRID 0-2 BARCELONA
27 April 2011: laga pertama semi-final

Panasnya aura El Clasico juga dirasakan Liga Champions musim lalu. Kejadian kontroversial terjadi pada laga pertama ketika Barcelona mengalahkan tuan rumah Real Madrid melalui dua gol Lionel Messi di pengujung pertandingan. Dua gol itu berhasil dicetak ketika Madrid bermain dengan sepuluh orang setelah Pepe dikartumerah wasit Wolfgang Stark karena dinilai melanggar keras Dani Alves.

Usai pertandingan, Jose Mourinho melontarkan kecaman pedas. “Kalau saya mengatakan kepada UEFA apa yang saya pikirkan dan rasakan, karier saya akan berakhir saat ini. Saya hanya ingin mengajukan satu pertanyaan yang saya harapkan bisa dijawab suatu saat nanti: Kenapa? Kenapa Ovrebo? Kenapa Busacca? Kenapa De Bleeckere? Kenapa Stark? Kenapa?”

Pada laga kedua yang berjalan antiklimaks, De Bleeckere kembali melakukan keputusan kontroversial dengan menganulir gol Gonzalo Higuain karena Javier Mascherano jatuh dihadang Cristiano Ronaldo yang terpeleset. Laga kedua berakhir 1-1 dan Barcelona melaju ke final.

BARCELONA 3-1 MILAN
4 April 2012: laga kedua perempat-final

Kejadian kontroversial terakhir terjadi dua malam lalu ketika wasit Bjorn Kuipers dengan gampang memberikan penalti kedua untuk Barcelona setelah pelanggaran Alessandro Nesta terhadap Sergio Busquets.

Keputusan dapat diperdebatkan karena tendangan penjuru belum dilakukan. Apalagi terlihat Carles Puyol berupaya menahan gerakan Nesta sebelum terjadinya pelanggaran. Penalti berhasil dieksekusi dengan baik oleh Lionel Messi, sama seperti penalti pertama, dan gol Andres Iniesta pada babak kedua mengantarkan Barcelona ke semi-final.

Usai pertandingan, skuat Milan mengeluhkan kepemimpinan wasit, antara lain seperti yang diutarakan Clarence Seedorf. “Kalau wasit melihat ada pelanggaran sebelum bola dimainkan, seharusnya dia menghentikan laga, seperti yang selalu dilakukan semua wasit.”

Zlatan Ibrahimovic malah menuduh adanya konspirasi dalam menentukan pemenang pertandingan, “Kalau wasit memberikan itu penalti, harusnya pelanggaran terhadap saya juga diberikan penalti.”

Saya sendiri punya pertanyaan yang cukup mengusik benak. Apa benar Barca benar-benar ‘dibantu’ untuk jadi juara? Mengingat mereka sebagai salah satu tim yang mengenakan logo nyleneh di dada (dulu Unicef sekarang Qatar Foundation, beda dengan klub2 eropa lain yang lazimnya memanfaatkan posisi dada sebagai tempat sponsor), cukup masuk akal jika saya menduga ada misi terselubung yang harus menggugurkan sportivitas. Apalagi penunjukan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 juga penuh tanda tanya.

Jika sudah demikian, apa gunanya kompetisi dalam Olah Raga? Kekuatan uang bisa masuk ke semua lini untuk menciptakan sejarah. Ingat Calciopoli. Untunglah Juventus adalah klub yang punya harga diri sehingga bersedia bertanggung jawab atas semua kesalahannya.

Apa yang bisa kita lakukan terhadap dugaan permainan kotor Azzulgrana? Kita hanya bisa menunggu ada tindakan konkrit dari pihak2 terkait, atau kita tidak lagi percaya pada UEFA dan bikin organisasi tandingan. Jika sampai Barcelona terbukti ada main dalam setiap pertandingannya, tanpa ba bi bu lagi, saya pikir Anda semua akan sepakat bahwa apapun hasil investigasi AFC, laga Bahrain vs Indonesia yang berakhir 10-0 adalah pertandingan yang syarat akan pengaturan skor.

Mari kita amati bersama, apakah Barcelona akan benar-benar melaju ke final dengan bantuan wasit, seperti sindiran halus Jose Mourinho.

From → social

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: