Skip to content

The Economic Stupid

March 10, 2012

Konon judul di atas adalah senjata yang mampu mengantarkan Bill Clinton menjadi Presiden Amerika Serikat. Dengan mengkritisi kinerja ekonomi Presiden George Bush yang carut marut akibat perang teluk, maka sampailah dia ke gedung putih.

Jika melihat ke 2014, harusnya pengalaman tadi bisa dijadikan cermin untuk pemerintahan sekarang. Sayangnya kebijakan ekonomi yang dikeluarkan tidak juga kunjung menunjukkan bahwa itu adalah cara-cara yang ‘unstupid’. Tidak terlihat kebijakan yang cerdas. Rakyat kecil pun kian bingung kemana melangkah.

Kenapa BBM harus naik? Okelah kalau alasannya untuk menjaga neraca keuangan Negara, meski sesak bisa kita terima. Tapi kenapa setelah BBM naik gaji PNS juga harus naik? Okelah untuk mengantisipasi kenaikan harga-harga sebagai dampak kenaikan BBM. Kalau begitubagaimana dengan rakyat kecil yang kekurangan dan bukan PNS? Okelah pemerintah sudah menyiapkan BLT. Terus bagaimana dengan nasib pegawai swasta yang gajinya sudah pas-pasan, mau minta naik majikannya malah bilang, wah BBM naik, biar usaha gue tetap jalan, lu harus cabut dari sini….

Apakah ini kebijakan yang adil? PNS seharusnya mendapat gaji yang sesuai saja. Maksudnya sesuai disini adalah sesuai dengan kesejahteraan rakyat pada umumnya. Ketimpangan pendapatan seperti ini bagaimanapun bisa menimbulkan kesenjangan sosial yang terlalu tinggi yang pada akhirnya membuat persaudaraan kita pun jadi hilang.

Kenapa begitu? Kita tahu bahwa PNS pada umumnya bekerja dengan santai. Malah sebagian orang bilang Santainya puoollll…… Kalau mereka mendapat penghasilan yang jauh lebih tinggi dibanding orang yang mati-matian membanting tulang, apakah pantas? Sudah gitu, sudah jadi rahasia umum pula bahwa PNS masuknya pakai sogok-sogokan. Nah, yang ga punya modal terus terpaksa kerja sedapatnya gimana coy?

Okelah kita didorong untuk wiraswasta. Tapi kebijakan pemerintah justru kontra produktif dengan dunia usaha. Kalau mau berbisnis kita biasanya awalnya memilih usaha apa yang akan kita tekuni. Dalam memilih kita selalu melihat pada kebutuhan pasar. Ketika kita melihat suatu fenomena, misalnya kebutuhan daging masyarakat masih kurang jauh dibanding produktivitasnya, maka kita melihat itulah peluang usaha. Sayangnya ketika kita mulai berinvestasi dengan membeli sapi pedaging, kita gemukkan, setelah gemuk apa yang terjadi? Pemerintah melakukan impor sapi besar-besaran yang membuat harga daging jatuh. Stupid ga coy?

Itu baru satu contoh komoditas bisnis. Stupid- itas pemerintah ga cuma disitu. Lihatlah impor produk-produk China. Lihatlah impor beras. Impor gula. Bahkan garam pun impor. Apa laut kita masih kurang luas untuk memproduksi garam?

Tapi kalau kemudian ada pertanyaan, siapa yang bisa mengingatkan pemerintah kalau sudah begini?
Wallahu alam

From → economic

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: