Skip to content

UU Larangan Khitan Perempuan; Solusi yang Memuaskan

September 11, 2011

UU Larangan Khitan Perempuan; Solusi yang Memuaskan

Khitan terhadap perempuan, suatu pembahasan yang tak kunjung menemui keputusan final baik dilirik dari tinjauan medis ataupun agama. Satu pandangan berpendapat bahwa khitan terhadap perempuan merupakan keutamaan ajaran agama. Sedangkan kelompok lain berpandangan bahwa khitan terhadap perempuan hanyalah budaya sebuah negara yang dipengaruhi oleh lembah nil (tradisi pedalaman nil). Jadi khitan terhadap perempuan tidak mempunyai kaitan dengan syari’at agama. Tapi hanyalah sebuah kebiasaan klasik bari qobilah-qobilah negara afrika yang dilalui oleh sungai nil.

Dewasa ini praktek khitan terhadap perempuan telah menjadi sorotan. Banyak LSM dan organisasi perempuan menentang praktek ini, dengan dalih khitan merupakan tindakan kekerasan dan merusak hak reproduksi perempuan. Banyak negara mengeluarkan petisi melarang praktek ini. Bahkan di Inggris telah mengeluarkan peraturan yang dinamakan “female general multilation act” yang isinya antara lain melarang orang tua membawa putrinya keluar negeri untuk menjalani khitan. Karna diperkirakan banyak orang tua yang mebawa anaknya keluar negri untuk dikhitan. Ketentuan ini mempunyai sangsi hukum penjara 14 tahun bagi yang melanggar.

Sudah tercatat juga 16 negara-negara afrika yang mengundang-undangkan larangan khitan ini. Selain undang-undang, sangsi yang dikenakan adalah kurungan 6 bulan hingga satu tahun. Benin, Chad, Niger mengeluarkan peraturan ini pada tahun yang sama, 2003. etiopia, jibuti, burkina faso, ghiena, senegal, tanzania dan togo baru tahun lalu menetapkan pelarangan ini. Selain itu negara afrika selatan ternyata sudah mengundangkannya sejak tahun 1996. Dan masih banyak negara afrika dan negara maju di eropa yang sudah mematenkan larangan khitan terhadap kaum hawa.

Peninjauan yang dilakukan di negara-negara afrika yang kemudian menyebabkan negara-negara kulit hitam ini mengeluarkan undang-undang melarang sunat terhadap perempuan adalah, akibat buruk dan trauma yang ditimbulkan dari tradisi ini. Menurut perkiraan PBB, sekitar 28 juta perempuan Nigeria, 24 juta perempuan Mesir, 23 juta perempuan Ethiopia, dan 12 juta perempuan Sudan, dengan sangat terpaksa telah menjalani sunat ini. Dikisahkan, seorang gadis asal Togo bernama fauziya kasinga (17) melarikan diri dari negaranya dan meminta suaka di amerika karna dipaksa untuk dikhitan.

Sunat terhadap perempuan di afrika tergolong kejam karna dilakukan dengan cara infibulasi clitoris (pemotongan) sampai dalam, bahkan sampai terjadi penjahitan terhadap vagina minora (mulut vagina luar). Terlebih khitan perempuan Mesir kuno, dilakukan dengan cara yang tragis. Selain pemotongan sampai akar kemudian dilakukan penjahitan pada vagina dan hanya disisakan lubang kecil untuk air seni dan darah haid. Kemudian jika wanita tadi akan menikah jahitan tersebut dibuka kembali. (sumber UN Centre for human Right, “lembar fakta 23:praktek tradisional yang berbahaya bagi kesehatan wanita dan anak”, 2000 : 353: komnasham-british council-jakarta).

Who (world health Organisation) pun sudah meyatakan bahwa sunat terhadap perempuan merupakan tindakan yang melanggar hak asasi manusia, melanggar hak atas penikmatan sepenuhnya standar kesehatan tertinggi yang dapat dicapai. seperti tercantum dalam pasal 24 (ayat 1 dan 3) dari Konvensi Hak Anak. Praktek inklubasi klitoris ini juga bertentangan dengan Undang-Undang (UU) Nomor 39 Tahun 1999 Pasal 46 Butir C menegaskan bahwa hak khusus yang ada pada diri wanita dikarenakan fungsi reproduksinya dijamin dan dilindungi oleh hukum.

Begitu juga population council lembaga yang aktif dalam melindungi hak-hak perempuan sudah mengeluarkan larangan praktek khitan terhadap kaumnya. Lembaga ini menilai sunat terhadap perempuan bisa merampas hak reproduksi perempuan dan merampas kesehatan serta kepuasan seksual.

study kasus yang dilakukan Population council ini menyimpulkan beberapa akibat yang ditimbulkan dari praktek ini. Sebagai misal; pendarahan, infeksi, rasa sakit, tekanan psikologi, persoalan kejiwaan yang membahayakan kehidupan perempuan. Atau jika sunat dilakukan dengan praktek tradisional bisa menyebabkan tetanus, ketidak suburan dan menjadi penyebab anemia.

Di mesir, Adalah Dr. Farhondah hasan yang getol membawa masalah ini ke parlemen. Ketika masih menjadi petinggi di hizb el-watony beliau sudah membawa aspirasi tentang pelarangan sunat terhadap perempuan kecuali melalui dokter khusus. Namun pendapatnya dimentahkan oleh syeik gad el-haq ‘ali gad el-khaq, grand syeikh Al-azhar saat itu. Beliau (Dr. farhondah hasa) juga berpendapat bahwa sunat ini tidak mempunyai hubungannya dengan agama ataupun intervensi tokoh-tokoh agama.

Tertinggal dari negara-negara lain, di Mesir undang-undang larangan khitan perempuan masih menunggu putusan dari majma’ buhus islamiah dan pendapat dari mufti gumhuriah, Doktor Ali Gum’ah. D. zaenab Ridwan (‘amid kuliah dar el-ulum dan naggota majlis Al-Sya’b) menyetuji rancangan undang-undang pelarangan khitan terhadap perempuan jika di rundingkan antara rijal al-din (tokoh-tokoh agama) dan dokter-dokter spesialis. Beliau mengutip (فسألوا أهل الذكر) dalam tafsirannya beliau mengartikan setiap masalah harus ditanyakan kepada “ahlinya” yang pendapatnya pasti akan didengar orang. Dalam hal ini adalah para dokter spesialislah yang lebih mengetahui akan kesehatan reproduksi.

Menurut sebagina pendapat, praktek yang dinilai sebagai peradapan negri lembah nil ini dilaksanakan untuk mengurangi gejolak nafsu seks wanita. Karna iklim yang dingin lebih mendukung utuk mendukung bagi seseorang untuk mencari “kehangatan”. Dari situ jika wanita tidak dikhitan maka akan liar dan lebih banyak meminta “ML” untuk sekedar memenuhi kehangatan mereka.

Menyikapi hal ini ulama-ulama al-azhar memegang pendapat yang lebih bersifat toleran. Meraka mengembalikan masalah kepada dokter. Jika memang dipandang mempunyai dampak positif maka lebih dianjurkan, namun jika terdapat bahaya maka meniadakan khitan adalah tindakan utama.

Memang khitan dipandang sebagian orang merupakan sunah untukmemuliakan wanita,namun sebagian lain berpandangan tradisi tersebut tidak mempunyai nas agama ataupun sunnah. Bahkan hadis tentang khitan perempuan didho’if-kan oleh muhadditsun dan tidak pantas untuk dijadikan landasan dalil (Dr. Qusbi zalath, ros el-yusuf n0.4035 8:14/10/2005).

Khitan memang ada pada rosul, beliau sendiri pun pernah mengkhitan putrinya. Dan rosul memang tidak pernah mengingkari tradisi ini. Namun, hadis itu pun masih belum menegaskan putusan masalah khitan. Sesuai lima fitrah manusia yang terdapat dalam sebuah hadis adalah hitan, mencukur bulu kemaluan, bulu ketiak, menggunting kuku dan memendekkan kumis. Nah, Hitan disini lebih spesifik kepada laki-laki. Dan pembahasan untuk wanita berhenti pada keutamaan saja.

Dalil yang dijadikan landasan oleh orang yang melakukan khitan wanita adalah hadis ummu ‘atiyah yang mengatakan jangan berlebihan dalam menghitan perempuan karna itu lebih/disukai perempuan dan disenangi laki-laki.namun hadis ini dipandang doif dan mursal karna ada sebagian yang rowi yang hilang sehingga tidak cocok untuk dijadikan sumber hukum.

Doktor mahmud ‘asyuro, mantan wakil azhar berpendapat masalah khitan terhadap perempuan adalah masalah medis yang seyogyanya diserahkan kepada para tabib (dokter) bukan kepada tokoh-tokoh agama. Karna para dokter adalah orang yang lebih mengetahui segala bentuk akibat yang ditimbulkan oleh praktek khitan ini.

Di indonesia putusan inipun sudah berlaku. taman pendidikan al-qur’an Assalam bandung yang sudah beroperasi sejak 1948, sekarang mendapatkan pengawasan langsung dari WHO dan staff population council dalam menjalankan prakteknya.

Memang, sebuah keputusan bijak adalah menyerahkan masalah ini kepada si mustakhiqoh ataupun ahli medis yang lebih mengetahui seberapa besar akibat dari praktek ini. Bagaimana bentuk kesehatan reproduksi perempuan hanya mereka juga yang tahu. Kenyataan yang ada, banyak LSM dan lembaga aktifis perempuan justru menentang praktek ini. Tidak menutup kemungkinan, undang-undang larangan khitan perempuan adalah solusi kongkrit untuk memuaskan mereka. Bagaimana kita membuka mata?

From → culture

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: