Skip to content

Krisis Libya dan Masa Depan Kita

August 24, 2011

Indonesia hari ini adalah Indonesia yang lemah yang ibarat kapal tidak tahu kemana harus menuju. Ibarat mobil yang berpacu di arena balap seolah tidak punya gairah lagi untuk bekompetisi. Ibarat kuda pacu, sepertinya lebih suka keluar arena daripada berlelah-lelah mengeluarkan energy. Tidak tampak sama sekali yang pantas dibanggakan dari pemerintahan kita. Presiden beserta menteri dan DPR sudah tidak lagi bersatu padu menuju Indonesia yang adil dan makmur. Amanat Pancasila dan UUD 1945 hanya sebatas di bibir saja.
Memprihatinkan memang. Bukan lagi indeks kesejahteraan yang muncul ke permukaan melainkan malah Century, Gayus dan sekarang Nazarudin. Semua menampakkan kebobrokan moral pemerintah yang berkuasa. Belum lagi kasus pemilukada di daerah yang tetap saja menyisakan masalah yang tak kunjung usai. TKI yang bermasalah juga salah satu indikasi kelemahan pemerintah kita.
Kalaupun ada pertanyaan yang paling pantas muncul ke permukaan adalah kenapa pemerintahan kita lemah? Pertama, pemerintah muncul ke permukaan dengan cara yang salah. Demokrasi yang mengharamkan politik uang hanya mampu diterapkan secara de jure. Pada kenyataannya uanglah yang menentukan jabatan seseorang (kecuali Gubernur DIY). Dibalik fakta tersebut tersimpan sejumlah misteri yang lebih mengerikan. Uang yang digunakan sebagai dana kampanye tidaklah berasal dari calon bupati/walikota/gubernur/presiden yang maju, melainkan dari donatur yang punya pamrih dibalik pemilihan tersebut. Maka ketika salah satu calon memenangkan kompetisi, dapatlah ditebak bahwa sejumlah kepentingan berperan besar di balik kebijakan-kebijakan yang mengatasnamakan pemerintah. Kepentingan-kepentingan itu tidaklah menyimpang jauh dari kepentingan ekonomi.
Lalu siapakah donatur yang sedemikian ‘baik hati’ tersebut? Untuk tataran daerah mayoritas masih orang-orang Indonesia juga, meskipun berasal dari daerah yang berbeda. Nah, untuk tataran Negara? Pastilah organisasi internasional yang berperan. Pastilah mereka yang punya kekuatan ekonomi dan militer yang ikut campur dalam pemilihan orang nomor 1 di suatu Negara. Militer? Ya. Militer adalah kekuatan yang riil mampu membuat gentar semua pihak.


Libya hari ini (24/8/2011) adalah tempat yang bagus untuk berkaca. Kekuatan Khadafi akhirnya luluh lantah di tangan militer internasional. Seperti yang diperkirakan sebelumnya, rezim yang sudah berkuasa 42 tahun itu berakhir. Atas nama kemanusiaan, perdamaian, atau apapun namanya, invasi tersebut seolah-olah terkesan legal, padahal sebenarnya hanya 1 yang diinginkan Negara-negara besar terhadap Libya… Minyak. Amerika, Rusia, Cina sudah jelas akan menjadi penguasa minyak di Libya yang notabene bukan wilayah mereka. Tapi kapitalisme memungkinkan untuk seperti itu. Lalu siapa pengganti Khadafi? Sudah tentu Negara-negara penikmat minyak Libya tersebut tinggal berunding mencari pemimpin boneka untuk mengamankan proyek-proyek mereka ke depan. Maka nanti akan muncul demonstrasi2 yang menentang pemimpin baru di Libya, namun akan berhenti dengan sendirinya karena mereka kelelahan, butuh makan dan yang jelas tidak punya kekuatan sedahsyat kekuatan militer internasional (NATO). Skenario itu sepertinya sudah pasti akan terjadi karena polanya sama persis dengan Irak dan Afghanistan.
Lalu bagaimana dengan kita? Setidaknya nyali pemerintah makin ciut untuk tidak mengikuti kemauan Negara-negara luar. Mereka menggertak memutus hubungan dagang dengan Indonesia saja kita sudah tidak berkutik. Semisal kita balas menggertak (baru menggertak) lalu sejumlah kapal induk Amerika dan beberapa Negara lain di dunia merapat ke perairan Indonesia, kita sudah menarik kembali ucapan kita. Karena berkaca pada Libya dan Irak pasti akan banyak yang berfikir ulang untuk melawan dengan kekuatan yang ada.
Hal yang sama nyaris terjadi pada Mesir. Namun Housni Mubarak cukup arif juga dengan memilih mengundurkan diri sebelum situasi lebih memanas. Jumlah korban proses suksesi di Mesir jauh lebih sediikit dibandingkan Libya. Tetapi kemudian muncul pertanyaan, siapa gerangan yang menggerakkan proses suksesi di kawasan timur tengah tersebut?
Kembali ke Indonesia, dengan mengamati fakta bahwa sepertinya pemerintahan kita tunduk dan patuh pada kepentingan asing, maka pertanyaan kritis selanjutnya, sampai kapan ini terjadi? Agak sesah menjawabnya. Arah pergerakan bangsa ini bukannya semakin membaik namun malah sebaliknya. Sebenarnya jawabannya sederhana saja. Ketika reformasi bergulir tahun 1998, waktu itu ada 3 isu yang mengemuka yang ingin segera dihapus dari bumi pertiwi, yaitu korupsi, kolusi dan nepotisme. Namun nyatanya karakter semacam itu sudah mengakar dan susah dicabut. Maka jika ketiga virus bangsa tersebut benar-benar bisa hilang dari negeri ini, barulah kita bisa lepas dari lingkaran setan. Bentuk konkritnya, bisa tidak pemilihan pemimpin tanpa politik uang? Jika pemimpin yang terpilih tidak merasa terbebani oleh hutang budi pada pihak-pihak yang menyokongnya, pastilah dia akan bisa memerintah dengan bijak dan tetap menggunakan akal sehat. Proses-proses tender berjalan normal, perwakilan rakyat diberdayakan, hingga akhirnya tujuan demokrasi yang sebenarnya tercapai.
Tapi Anda yang membaca artikel ini pasti dalam hati berkata kecut…. Mimpi lo….
Ya… kata hati Anda membuat Saya kembali bertanya ‘dalam hati’ juga…. Sampai kapan lingkaran setan ini akan berakhir?

From → political

2 Comments
  1. andi_pekanbaru permalink

    oke banget analisisnya… thanks

  2. Tri Widiyanto permalink

    halo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: