Skip to content

Serikat Rakyat Independen

August 4, 2011

Barangkali keinginan kita untuk menyaksikan Indonesia Jaya yang berkeadilan sosial masih jauh panggang dari api. Lagu lama muncul kembali dengan pola yang mirip pada masa lalu dimana sama sekali tidak menghasilkan solusi yang cerdas. Seorang yang punya popularitas serta memiliki sejumlah dana dan dukungan dari Amerika tiba-tiba muncul menjadi kandidat RI 1 dengan langkah yang sama persis dengan pendahulunya.

Itulah SMI, alias Sri Mulyani Indrawati. Mulai mencuat saat reformasi berjalan, namanya melejit di jajaran pemerintah yang berkuasa hingga akhirnya terjungkal dengan adanya kasus Bank Century. Ibarat ingin menutup aib, maka wajar jika ia sangat bermotivasi memenangi persaingan memperebutkan kursi presiden 2014. Alih-alih melobi partai besar untuk mendukungnya, beliau justru ‘mendirikan’ partai baru dengan inisial yang sama persis dengan nama depannya………….. SRI. Mirip seperti kisah Yudhoyono dan Demokrat.

Meskipun jarang disebutkan bahwa Partai Serikat Rakyat Independen adalah bentukan SMI, namun sulit dipungkiri jika SMI tidak terlibat dalam pembentukannya. SMI bolehlah dibilang punya posisi yang kuat di peta perpolitikan Internasional dengan menduduki jabatan elite IMF. Boleh juga SMI mendapat dukungan kuat dari orang-orang berduit di Indonesia (maklum yang merasa mendapat keuntungan akibat kebijakan renumerasi, siapa sih yang tidak mendukung?). Namun untuk tujuan hakiki pemilihan presiden demi mendapatkan pemimpin yang bisa ‘ngayomi’ segenap tumpah darah Indonesia, sepertinya kehadiran SMI bukan yang diharapkan.

Ada banyak pihak yang merasa kecewa dengan SMI. Renumerasi, atau kenaikan pendapatan bagi pejabat depkeu, kehakiman, polisi, kantor pajak agar tidak terjadi korupsi di lembaga tersebut, bagaimanapun membuat iri pegawai departemen lain, pegawai perusahaan swasta, atau tentu saja wirausahawan. Dan kenyataan bahwa kebijakan itu menghasilkan putra bangsa yang bernama Gayus Tambunan, semakin kental bahwa kebijakan itu diduga hanya untuk memperkaya sang pembuat kebijakan.

Bukan itu saja, dalam catatan saya SMI jarang sekali menunjukkan kebijakan atau setidaknya usulan untuk mengatasi permasalahan bangsa terutama di kalangan kar rumput. Meskipun background beliau adalah ekonomi pembangunan, namun kebijakan yang berhubungan dengan masyarakat kelas bawah tampak kurang jelas. Seharusnya ketika ada usulan pasar bebas dengan cina beliau menolak mentah-mentah agar industry dalam negeri bisa tumbuh. Maraknya bisnis franchise semacam Indomaret juga harus beliau amati untuk di stop agar pemerataan pendapatan lebih terjaga. Kenaikan harga BBM yang kemudian melahirkan BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang juga berhenti di tengah jalan juga salah satu indikasi kuat bahwa roh pro rakyat sama sekali tidak tampak dalam diri SMI. Dan kedekatan beliau dengan Pak Wapres Boediono yang pada akhirnya juga tidak menampakkan kedekatan dengan kalangan bawah semakin membuat kita patut merasa was was jika SMI benar2 menjadi RI 1.
Namun apa yang kita cemaskan tersebut sangat mungkin terjadi, karena sesungguhnya demokrasi itu bisa dibeli. SMI dengan IMF dan kekuatan Amerika yang juga ada Yahudi dengan Zionisme di belakangnya, bukanlah sebuah gertak sambal. Tak perlulah saya jelaskan strategi apa yang akan mereka lakukan karena kekuatan kapitalisme adalah senjata utamanya. Dengan tingkat kedewasaan berpolitik bangsa Indonesia yang masih sedemikian rendah, sangat mudah bagi tim sukses SMI untuk mencapai ambisinya. Hanya 1 kendala mereka, yaitu UU Parpol yang bisa menjungkalkan mereka dari verifikasi.

Dan Saya tidak lagi bisa membayangkan bagaimana wajah negeri ini jika SMI berkuasa. Seperti halnya Boediono yang tidak begitu terlihat karakter kepemimpinannya, maka sangat mungkin kehadiran SMI sebagai kepanjangan tangan dari kaum kapitalis akan makin mengeruk kekayaan negeri ini ke Negara asing.

Saya jadi ingat ungkapan John Morgentaw ketika imperialisme runtuh. Ia mengatakan bahwa penjajahan tidak akan pernah berhenti. Namun penjajahan abad modern tidak lagi menjajah secara fisik, tetapi secara ekonomi. Not by the way of its territory but by the way of its economic control.

From → political

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: