Skip to content

Papua Bergolak

August 3, 2011

2 Agustus kemarin terjadi gerakan menuntut referendum di tanah Papua Barat. Hari ini barangklali sedang demo besar-besaran (tulisan ini dibuat pada tanggal 3 Agustus). Yang menjadi titik kritis untuk dicermati bukan pada dimana titik kumpul para demonstran, rute long march ataupun tujuan demo, melainkan pada hakikat dari pergerakan tersebut.

Seperti kita tahu bahwa Papua adalah bumi nan kaya yang tersia-siakan. Segelintir orang telah memanfaatkan kekayaan Papua untuk kepentingan pribadi, sementara rakyat pribumi yang secara hakiki memiliki hak atas apa yang mereka punya justru terabaikan. Jadi jika gerakan ini laksana api dalam sekam yang sudah lama tersimpan dan baru kali ini berkesempatan untuk terlaksana adalah sebuah kewajaran.

Barangkali di benak kita yang terfikir adalah bagaimana rakyat Papua yang selama ini dikenal terbelakang (maaf, bukan bermaksud menyinggung rakyat Papua) bisa mengkoordinir gerakan yang tergolong besar tersebut? Memang di balik koteka dan rumba-rumba yang mereka kenakan sebenarnya mereka telah mampu melahirkan sejumlah generasi yang mampu berfikir cerdas dan jika kemudian mereka menuntut hak atas apa yang seharusnya mereka punya adalah sebuah fenomena yang logis.

Pemerintah pusat yang lebih cenderung menghabiskan waktu untuk urusan partai, membuat kebijakan dengan berlandaskan pada hutang budi pada orang2 yang telah mendukungnya hingga menduduki jabatan tertentu, dan juga landasan bayar hutang atas modal yang dikeluarkan untuk menduduki jabatan publik yang diembannya, tidaklah sempat memikirkan keadilan bagi rakyat Papua. Lihatlah Freeport yang sedemikian gamblang. Bukannya diperuntukkan bagi pembangunan Papua malah justru dijual dan dinikmati pihak asing. Maka kalau Papua geram…. Itu wajar.

Yang kita inginkan bersama tentunya bukan referendum, tetapi perubahan kebijakan pusat atas Papua. Referendum bukan hanya memetik potensi bahwa kita akan kehilangan Papua (seperti halnya Timor Letse), tetapi juga munculnya tuntutan dari daerah lain yang menuntut hal yang sama. Setidaknya ada 3 organisasi separatis yang kita kenal dan patut diduga saat ini eksistensinya masih ada, GAM, RMS dan OPM. Jadi jika pemerintah tidak bersikap toleran terhadap ketiga organisasi tersebut, bujukan macam apapun tidak akan mampu mencegah mereka melakukan referendum. Sayang pemerintah kita bukan model relawan bencana yang selalu cepat tanggap ketika terjadi permasalahan.
Lalu siapa otak di balik pergolakan Papua kali ini? Salah satu tokoh yang muncul adalah Benny Wenda. Siapa dia? Saya kutip dari freewestpapua.wordpress.com, dia adalah seorang putra daerah yang terlahir di awal tahun 70-an dan merasakan keindahan alam Papua dimana ia bisa hidup tenteram dengan bercocok tanam di sebuah desa di dataran tinggi Papua. Hingga akhirnya ketika militer datang pada tahun 1977 kedamaian itu terusik. Mereka mulai semena-mena terhadap warga desa dan juga keluarha Beny Wenda. Bukan hanya dihadang di tengah jalan, namun warga pribumi juga di siksa, diperkosa dan bahkan dibunuh. Hingga ketika warga setempat melakukan penyerangan, justru pembalasan dendam militer yang lebih menyiksa. Pesawat militer terbang di atas perkampungan dan menjatuhkan bom hingga masyarakat adat setempat benar-menar tersiksa. Benny Wenda menderita luka di kaki yang cukup parah dan tidak terobati karena keluarganya lari ke hutan cari selamat.

Ketika keluarganya benar-benar tak berdaya menghadapi kekejaman militer Indonesia, mereka kemudian tidak punya pilihan lain kecuali melunak, mengikuti kemauan militer Indonesia dengan tujuan mulia, agar benny Wenda bisa mengenyam pendidikan. Maka sekolahlah Benny Wenda hingga universitas.

Disinilah cakrawalanya terbuka untuk membuka tabir tentang apa yang terjadi dengan tanah kelahirannya. Ketika salah satu tokoh pergerakan kemerdekaan Papua, Theys Aluay muncul ke permukaan hingga akhirnya dibunuh oleh militer, Benny sudah aktif di organisasi-organisasi sejenis. Itulah pula yang menyebabkan dirinya ditangkap dan ditahan tanpa alasan pada tahun 2002. Namun pada akhirnya dia berhasil melarikan diri ke Papua Nugini dan ditolong oleh LSM luar negeri untuk pergi ke Inggris dan mendapatkan suaka politik disana. Maka jadilah Benny Wenda sebagai otak pembebasan Papua di tempat yang aman dari jangkauan militer Indonesia.

Jika strategi pemerintah Indonesia masih mengedepankan jalan pintas (membunuh sang tokoh) permasalahan ini akan semakin runyam. Dialog adalah jalan keluar terbaik dengan disertai komitmen dari hasil dialog tersebut dengan tetap menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia. Tentu saja komitmen hasil dialog akan sangat berat jika Papua meminta kekuasaan untuk mengelola kekayaan alamnya, karena pemerintah Indonesia harus bersikap tegas pula pada perusahaan asing yang ingin mengeksploitasi Papua. Namun jika tidak demikian, tidak ada jaminan Papua tetap dalam genggaman RI. Bayangkanlah jika Anda adalah Benny Wenda. Meski kita sebagai orang non Papua tidak ingin kehilangan Papua dari Indonesia, namun kita tidak bisa memungkiri betapa dholim pemimpin-pemimpin kita pada rakyat Papua. Dengan kecerdasan Benny Wenda serta kedudukannya di tempat yang aman, maka tuntutan referendum kali ini membutuhkan penyelesaian yang tegas oleh Jakarta. Karena jika sudah masuk ke ranah hukum Internasional, sepertinya sulit untuk percaya bahwa ujung tombak Indonesia nantinya akan benar-benar mengejar keadilan.

Pergolakan Papua adalah pelajaran berharga bagi perpolitikan Indonesia.

From → political

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: