Skip to content

The Different Era

June 6, 2011

Bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang berjiwa gotong royong (………. dulu). Bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang lebih mengutamankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi (……… itu juga dulu). Bangsa Indonesia mempunyai landasan ideologi Pancasila yang berkemanusiaan yang adil dan beradab (………..dul.. eh sekarang juga masih ding..). Tapi nilai-nilai mulia itu terancam punah setelah kapitalisme masuk ke Indonesia. Seperti Bung Karno bilang, jangan biarkan kapitalisme masuk ke Indonesia, karena kalau kapitalisme masuk, kita akan menjadi bangsa kuli, kulinya bangsa-bangsa.
Sayang, bung karno terbatas oleh waktu. Meski semangatnya masih membara di jiwa sebagian orang, namun tidak demikian halnya di dada penguasa baik tingkat pusat maupun daerah. Kapitalisme tidak hanya merusak tatanan perekonomian yang menyengsarakan kaum proletar, namun juga menggeser nilai-nilai sosial di masyarakat.
Perbincangan Saya dengan pedagang pasar tradisional menjadi sebuah perenungan sendiri bagi Saya. Pasar Kolombo yang terletak di seputaran Kentungan, adalah pasar dengan perputaran uang yang tinggi setiap harinya. Namun pedagang langganan saya bercerita bahwa makin lama jumlah pedagang disana makin banyak (wajarlah jumlah penduduk juga makin banyak, gumamku). sementara yang beli cenderung tetap (loh?) karena sebagian orang mulai suka berbelanja di Superindo, supermarket yang menyediakan beraneka macam sayuran dan buah yang berlokasi tidak jauh dari Pasar Kolombo.
Hmmm……… yang jadi pertanyaan saya selanjutnya adalah, besok bagaimana? Ketika jumlah penduduk makin banyak, pemerintah makin kesulitan menciptakan lapangan kerja, profesi pedagang pasar yang pastinya tidak pernah dicita-citakan oleh anak-anak sekolah saat sekarang, akan menjadi profesi rebutan karena bukan prestise lagi yang mereka butuhkan…. tapi makan.
Saya lalu teringat akan tradisi pertemuan trah, kondangan manten, sunatan, dan sebagainya yang cenderung menjadi ajang pertemuan antar keluarga yang jarang bertemu. Ketika kesenjangan ekonomi diantara mereka tidak terlalu tinggi, rasanya tidak terlalu masalah jika mereka duduk berkumpul bersama. Namun ketika kesenjangan itu menganga, apalagi salah satu dari yang kumpun adalah mitra bisnis gerai Alfa Mart atau Indomaret sementara yang lain buka toko kelontong kecil-kecilan di sebelahnya, maka jangan disalahkan jika salah satu diantaranya memilih untuk tidak datang dan tidak berkumpul bersama. Apalagi jika yang datang kemudian berkata “kita ini kan keluarga, mbok ya kalau ada waktu diluangkan untuk berkumpul sebentar”, maka jangan disalahkan pula jika yang tertindas akan mengumpat dan bertekad untuk tidak datang selamanya.
Inilah realita sosial yang sepertinya sengaja didesain oleh kekuatan tertentu agar persatuan bangsa ini carut marut sehingga mudah diadu domba kembali ke zaman Belanda dengan cara yang berbeda. Kita benar-benar memasuki the different era.

From → economic

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: