Skip to content

The End of Capitalism

September 9, 2010

Setelah rezim komunisme yang menjunjung sistem ekonomi sosialis runtuh, maka kapitalisme mulai berkuasa di hampir semua lini kehidupan. Negara-negara yang dulunya terkenal sebagai dedengkotnya sosialis seperti Rusia dan Cina, mulai membuka diri untuk menerapkan kapitalisme dalam sistem perekonomiannya. Dan hasilnya sungguh luar biasa. Cina menjadi raksasa dunia, Rusia pun mulai unjuk gigi.

Akibatnya bagi pendidikan mental generasi muda di muka bumi adalah menjalarnya sindrom kapiralisme dalam benak mereka. There’s no thanks you business. Segala seuatu diukur dengan uang. Tidak ada yang gratis, bahkan kadang-kadang bernafas pun harus bayar. Yang kaya tertawa riang karena sistem kapitalis memungkinkan mereka untuk mendapatkan passive income dalam jumlah yang jauh lebih besar dari UMR suatu daerah. Sementara yang hidup kekurangan harus menangis darah untuk bisa memperoleh makan.

Namun di setiap perayaan idul fitri, seolah kita tersadarkan bahwa kapitalisme tidak selamanya menjadi prinsip hidup kita. Bahwa pengorbanan yang sekecil-kecilnya untuk memperoleh hasil yang sebesar-besarnya tidak selamanya berlaku untuk kita. Pernahkah kita berfikir, berapakah biaya untuk mudik? Pernahkah kita berfikir berapakah biaya yang kita keluarkan untuk oleh-oleh keluarga dan handai taulan? Dan apakah semua itu dalam rangka investasi?

Maka fenomena mudik seharusnya membuat kita sadar bahwa ada nilai-nilai yang tidak mungkin kita tolak yang berlaku sejak jaman dahulu. Bahwa ada kewajiban kita untuk berbakti pada orang-orang yang telah berjasa dalam hidup kita. Bahwa ada saatnya bagi kita untuk menanggalkan rasa haus akan harta benda, dan berbalik menjadi haus akan memberikan harta benda yang kita miliki kepada orang-orang yang kekurangan.

Jika saja nilai-nilai mudik lebaran bisa dicerna oleh seluruh umat manusia, maka sudah semestinya kita menyadari adanya hari pembalasan, suatu kehidupan yang lebih kekal dibanding sekedar kehidupan di muka bumi yang fana ini. Maka jika nilai-nilai mudik lebaran ini benar-benar kita resapi, maka saatnya lah bagi kita untuk memasuki era kematian kapitalisme, menuju kepada perekonomian yang lebih mengedepankan kepedulian kepada sesama. Wallahu alam.

From → social

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: