Skip to content

Pendidikan Karakter

September 1, 2010

Buka bersama kemarin adalah menu baru yang aku alami. Jika biasanya diisi dengan siraman rohani, tema yang diangkat kali ini lebih universal dan acara diikuti oleh peserta yang multi agama. Namun temanya cukup menarik yaitu berhubungan dengan pendidikan karakter, utamanya karakter bagi siswa SMP.

Mengenai pengertian pendidikan karakter, tidak ada yang perlu dijelaskan sebenarnya, karena kita semua tahu apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter atau akhlak atau jaman dulu juga pernah ada pendidikan budi pekerti. Yang membuatnya menarik untuk disimak adalah proses penyampaian pendidikan karakter itu sendiri. Memang ada standar-standar khusus yang dimaksud karakter yang diharapkan oleh depdiknas, namun intinya dari dulu hampir sama, yaitu berhubungan dengan sifat2 rasul, sidiq, amanah, tabligh, fathonah.

Untuk bisa mencapai tujuan yang diharapkan, memang diperlukan faktor eksternal dari diri seseorang untuk bisa menciptakan manusia yang seutuhnya atau insan al kamil yang otomatis menjadi manusia yang berkarakter. Pendidikan karakter di sekolah tidak akan jauh berarti jika tidak didukung oleh keluarga di rumah dan juga lingkungan masyarakat setempat.

Yang menarik lagi, pendidikan karakter saat ini tengah menjadi gerakan nasional yang dilaksanakan lintas departemen. Dan pada akhirnya para trainer yang bekerja untuk pemerintah rata-rata berhenti di tengah jalan, karena situasinya sudah sedemikian parah untuk membentuk karakter sebuah instansi. Contohnya misalnya Polri. Polri tingkat bawah, setelah diteliti, ternyata punya rasa segan pada atasan yang berkunjung jika tidak memberikan ‘sesuatu’ yang sebenarnya itu tidak ada anggarannya. Bahkan jika tidak begitu, ada kemungkinan nantinya akan dimutasi entah kemana. Untuk memenuhi ‘kebutuhan’ maka mereka menggunakan kesempatan untuk sabet sana sini. Sangat mungkin instansi yang lain juga memiliki karakter sejenis.

Saya ingin mengaitkan fenomena ini dengan krisis Malaysia. Sebelumnya kalau saya boleh memberi saran, kalau bisa televisi janganlah menghadirkan politisi Partai Demokrat kalau ada acara diskusi masalh itu. Saya capek mendengar komentar-komentarnya yang sudah tidak obyektif lagi. Bukan masalah suka atau tidak suka pada Pak Beye, namun kita harus melihat konteksnya dengan martabat dan harga diri bangsa. Bagaimana mungkin ada orang masuk ke rumah kita tanpa permisi, berbuat sesuka hati, lantas kita tidak menunjukkan sikap tersinggung dan justru melunak menemui tamu tak diundang tadi dengan senyum yang mengembang?

Dengan 2 fakta ekonomi bahwa banyak orang Indonesia cari makan di Malaysia, serta banyak pemodal Malaysia menginvestasikan modalnya di Indonesia, kita lantas melunak agar tidak ada perubahan drastis dari 2 fakta ekonomi tadi. Saya kira seorang miskin saja, jika dia punya rumah reyot di atas tanah miliknya sendiri, dia akan marah-marah jika ada orang asing meskipun kaya yang masuk rumahnya tanpa permisi, lalu sampai dalam katakanlah misalnya mencium istrinya satu kecupan saja. Biarpun si miskin itu adalah ‘jongos’nya si kaya, namun kalau sudah bertindak semacam itu tetaplah sebuah penginjak-injakan terhadap harga diri.

Inilah yang saya khawatirkan ketika Pak Beye memilih Pak Boediyono sebagai cawapres. Kapitalisme dan liberalisme jelas dibuka lebar di Indoensia. Sayang kita sebenarnya belum cukup cerdas untuk menghadapi kekuatan modal asing yang bahayanya akan dirasakan oleh anak cucu kita nanti. Dan kita sekarang menghamba kepada pemodal seolah berkata, lakukan apa saja di rumahku, anggaplah semua punyamu, bahkan juga istri dan anak-anakku, lakukanlah sesukamu, yang penting jangan kau cabut dana yang telah kau investasikan agar aku tetap bisa menjadi ‘jongos’mu.

Saya yakin Bung Karno saat ini sedang menangis di alam baka sana, karena kita sudah bertekuk lutut pada kekuatan modal. Tahun 1960 an awal, meski ekonomi Indonesia tidak kuat-kuat amat, namun Indonesia mampu membuat gertakan. Semua adalah karena prinsip teguh beliau yang anti kapitalisme dan liberalisme. Kata beliau, jangan biarkan kapitalisme memasuki negeri kita, karena kalu kapitalisme sampai masuk ke negeri kita, kita akan menjadi bangsa kuli, kulinya bangsa-bangsa.

Saya jelas tidak mungkin membuat pengaruh yang signifikan bagi krisis ini. Saya hanya menaruh harapan pada pemimpin saya di Jakarta agar diperhatikan ini harga diri bangsa kita. Ada parameter, lebih nyenyak tidur di rumah reot tapi hasil karya sendiri daripada hidup di rumah mewah tapi hasil dari hutang yang bulan depan kita belum tahu harus ngangsur pakai apa. Marilah kita urai persoalannya kenapa bisa kita malah menjadi seorang budak di negeri sendiri.

Kembali ke soal karakter. Itulah masalahnya. Pimpinan yang ada di negeri kita, kebanyakan selalu memikirkan kepentingannya sendiri. Rakyat, urusan nanti. Kalaupun ada kegiatan yang sifatnya membantu rakyat, seolah itu hanya pemanis saja. Jika semua pejabat kita pro rakyat, tidak ada korupsi, tidak ada nepotisme, karena semua bekerja untuk kepentingan bangsa dan negara. Kenapa TKI di malaysia banyak? Karena kita tidak mengembangkan ekonomi kerakyatan, kita biarkan asing mengeruk kekayaan kita sehingga kita kehabisan rejeki di negeri sendiri. Masyarakat yang berwiraswasta justru dibunuh dengan mengizinkan beroperasinya perusahaan asing yang lebih kuat modalnya untuk menjadi pesaing. Begitu juga dengan pemodal asing. Kalau kita lebih mengejar kesejahteraan masyarakat daripada hitung2an di atas kertas soal pendapatan negara, ngapain kita tidak memanfaatkan potensi yang ada. Kalau punya sepetak sawah mau nanam melon ga punya modal, ya sudah tanam singkong saja. Toh kita nggak mati kalo ga makan melon? Siapa yang bisa merubah ini semua? Siapa lagi kalau bukan para pemimpin negeri ini.

Kalau kita benar2 ingin menjadi bangsa yang berkarakter, kunci dari semua itu hanyalah keteladanan. Dari atas harus menunjukkan karakter yang elegan. Saya tertarik dengan kehidupan sehari-hari Presiden Iran yang jauh dari kemewahan. Meski kebijakan politik luar negerinya sangat kontroversial, namun Mahmoud Ahmadinejad menunjukkan bagaimana bangsa Iran menjaga martabatnya. Lalu bagaimana dengan kita?

From → political

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: