Skip to content

Pemerintah Kita

August 31, 2010

Krisis hubungan dengan Malaysia memang menarik untuk disimak. Bukan saja seputar hubungan Indonesia dengan negeri jiran tersebut, namun juga bagaimana elit politik di negeri kita kemudian bersikap mendapati kenyataan seperti ini.

Bukan rahasia lagi jika sikap arogan Malaysia bukan hanya disebabkan oleh kemakmuran ekonomi mereka yang jauh di atas Indonesia, namun juga lemahnya jalur diplomasi yang ditempuh Indonesia yang terkesan kurang serius.

Saya jadi ingat jika bertemu dengan aparat pemerintahan yang ada di negeri kita yang kemudian kita menyebutnya PNS. Selain kerjanya terkesan asal-asalan, jam kerjanya pun jauh lebih singkat dibandingkan karyawan swasta yang gajinya hanya separuh dari para PNS tadi. Itikad untuk menjalankan fungsi dari instansi tempatnya mengabdi jauh dari harapan. Rumusan visi dan misi yang ada di setiap departemen seolah hanya sebagai pemanis tampilan saja.

Saya ingat betul ketika bersinggungan dengan para pegawai dinas pertanian. Setelah proyek turun, ada banyak oknum yang mengarahkan agar dana sebagian dialihkan untuk dimasukkan ke kantong pegawai dinas yang sudah ‘membantu’ mencairkan bantuan. Juga pegawai Kecamatan yang asyik menata kardus konsumsi di ruang kerja yang terlihat langsung oleh tamu. Beginikah etos kerja Indonesia?

Saya orang Indonesia, namun menghadapi kenyataan yang memilukan begini, saya jadi malu sebagai orang Indonesia. Itu hanyalah sebagai gambaran kecil dari pemerintahan kita. Meski belum melakukan penelitian, tapi saya yakin Anda tidak akan menolah anggapan saya bahwa semua pegawai di Indoensia seperti itu. Artinya meskipun angka otentiknya tidak 100 persen, namun sudah sangat denkat dengan angka 100.

Saya belajar dari novel Ayat-Ayat Cinta, ketika seorang mahasiswa Indonesia menjadi korban fitnah di Mesir, tidak ada upaya serius dari kedubes untuk membebaskan warga negaranya. Ketika itu Fahri lantas meminta bantuan pada aisyah istrinya yang berkebangsaan Jerman, dimana kedubes Jerman selalu melindungi warganya sampai titik darah penghabisan. Saya belum pernah ke Mesir, namun cerita dalam novel itu sudah menggambarkan betapa kita nyaris tidak punya pelindung yang menjaga keselamatan kita ketika di luar negeri.

Pun di malaysia. Ketika sekarang ratusan TKI terancam hukuman mati, saya tidak bisa membayangkan jika pemerintah kita berjuang mati-matian untuk membebaskan mereka. Atau setidaknya dikasih keadilan lah, dengan mengurai persoalan mereka satu per satu. Karena sangat mungkin mereka diperlakukan tidak adil. Bagaimana tidak? Mereka di negeri orang tidak punya pengacara? Hukum Malaysia juga beda dengan hukum Indonesia. Maka tidak ada yang bisa diharapkan untuk membantu para TKI yang menjadi tenaga kasar tersebut dari jeratan hukum kecuali Pemerintah kita.

Dan sekarang kita digertak oleh Pak Najib, awas macam-macam, jutaan wargamu cari duit di Malaysia, miliaran dolar danaku masuk ke Indonesia untuk investasi perusahaan-perusahaan besar, pikir itu.

Lalu kita sebagai rakyat idealnya bertumpu pada Pak Beye Presiden kita. Namun mengingat kinerja pemerintah tingkat bawah yang sedemikian mengecewakan, kita sudah dikhawatirkan oleh sistem yang kacau yang harus berhadapan dengan sistem pemerintahan negeri kaya yang SDMnya jelas jauh lebih baik dari kita. Kenapa Sipadan Ligitan lepas? Saya jadi berfikiran jangan2 yang didepan tidak berambisi mencaplok Sipadan Ligitan namun lebih berkonsentrasi pada caplokan yang lain? Ah… ini bulan Ramadhan, dan ini analisa ilmiah, mudah2an malaikat tidak mencatatnya sebagai sebuah perbuatan yang masuk kategori su’udhon.

Ke depan, pemerintah berpotensi mendapat serangan dari 2 kubu. Pemerintah Malaysia dan kubu oposisi di Indonesia dan juga rakyat Indonesia. Jika langkah yang diambil pemerintah kurang bermartabat, bisa jadi peristiwa 12 tahun lalu bakal terulang. Pemerintah Malaysia akan bisa meredam amarahnya, bukan karena pemerintah Indonesia yang melunak, namun lebih kepada situasi politik dalam negeri Indonesia.

Ini analisa yang obyektif, saya jelas tidak berharap seperti itu, maka saya hanya bisa berharap agar pemerintah melakukan langkah yang elegan agar martabat bangsa tetap berjaya di mata dunia.

Kalau kita ingat masa Bung Karno, saat beliau marah pada Malaysia, saat kemudian PBB menerima Malaysia sebagai anggota tetap DK PBB, beliau memutuskan untuk keluar dari keanggotaan PBB, membentuk organisasi tandingan, menyelenggarakan game yang setara dengan Olympiade yang bernama Ganefo yang diikuti puluhan negara di dunia dan diselenggarakan di ibu kota NKRI, Jakarta. Itulah Indonesia, yang berdiri penuh kejayaan di tengah berbagai gelombang yang terjadi di dunia.

Apakah kita tidak cukup percaya diri untuk kembali seperti itu?

From → political

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: