Skip to content

Ijazah Berbintang

June 5, 2010

Kalau selama ini kita mengenal Hotel Berbintang, maka bersiap-siaplah untuk menyambut yang namanya Ijazah Berbintang. Ini adalah rencana depdiknas untuk membedakan antara siswa yang lulus Unas -yang kemudian namanya diganti UN- dengan yang lulus melalui UN susulan.

Tentu ini bikin kaget sekaligus gemas sekaligus lucu. Sudah sistem ujiannya juga lucu, ijazahnya lebih lucu lagi. Namun yang jauh lebih lucu adalah rencana pembatalan tanda bintang tersebut. Kenapa lucu, karena hal ini menandakan ketidak matangan pemerintah dalam menyiapkan konsep pendidikan yang tepat guna dan berdaya guna.

Memang tidak adil jika pendidikan yang ditempuh 3 tahun hanya dipertaruhkan dalam 3 hari. Sebaiknya ujian itu dilaksanakan tiap bulan, lalu hasilnya diakumulasi, itu jauh lebih adil, dan tidak perlu susulan. Lebih bagus lagi kalau dari kelas 1 dan 2 diperhitungkan. Lo, bukannya itu membengkakkan anggaran? Kalau kita mau efisien, dan ketat dalam kontrol anggaran, sebenarnya tidak. Bahkan waktu kegiatan belajar mengajar pun tidak perlu dikurangi. Bagaimana bisa?

Begini, ketika kelas 3 ujian, kelas 1 dan kelas 2 tetap masuk. Toh ujian tiap sebulan sekali. Nah, ketika hari ujian, suasana memang dibuat beda, katakanlah misalkan ada roling guru antar sekolah baik yang negeri maupun swasta. Begitu ujian selesai, dilanjutkan materi yang keteter karena waktunya digunakan untuk ujian. Dan pengawas tidak perlu honor segala. Konsumsi secukupnya. Kertas bisa diambilkan dari kas negara -toh pendidikan gratis- pokoknya soal anggaran saya yakin tidak akan boros jika tepat sasaran.

Itu akan lebih adil dan akan membentuk karakter disiplin di setiap siswa. Kalau seperti sekarang, sekalipun seorang siswa memperoleh nilai sempurna ujian, namun itu bukan jaminan bahwa ia akan mempunyai kecakapan di masyarakat. Apalagi sekarang banyak lembaga bimbingan belajar yang tugasnya adalah memprediksi tipe soal yang keluar. Apalagi sekarang masyarakat makin teropinikan bahwa tolok ukur kesuksesan siswa adalah pada nilai ujian. Lalu dimana letak pendidikan yang sebenarnya?

Kata alm. Prof. T. Jacob, hanya ada 2 hal yang tidak bisa dibeli di dunia ini, intelektual dan bakat seni. Nilai?????

From → social

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: