Skip to content

Reformasi Deptan

May 9, 2010

Hari Kamis, 6 Mei 2010, secara mendadak aku dapat undangan buat menemui tamu-tamu dari tim evaluasi penyuluh2 pertanian. Sebagai orang yang hanya ngombyongi diantara pengurus2 Gapoktan2 yang lain, tentu saja aku hanya modal dengkul sama sedikit ruang kosong di perut.

Ketika tamu datang, basa-basi sebentar, lalu diaturlah jadwal pembicaraan. Satu persatu dipersilahkan bicara, termasuk aku, baru nanti tim evaluasi menimpali. Gila. Aku tidak tahu banyak tentang dunia pertanian, Apa yang harus aku katakan?

Aku memilih tema yang lebih general. Bahwa Deptan -seperti halnya departemen2 yang lain- dibentuk untuk kesejahteraan bangsa. Aku menyoroti ketidak adilan yang terjadi dari kebijakan2 yang dicetuskan oleh deptan. Agak unik memang, karena kalau aku bicara yang baik2 mungkin akan jadi anak kesayangan Deptan untuk kemudian mendapat fasilitas bantuan yang tidak terkira.

Tapi sikapku yang agak vokal ternyata masih kalah vokal dengan yang lain. Kritikan2 tajam terhadap pola pembinaan petani oleh deptan diangkat setinggi2nya. Dimana sekarang bukan lagi jamannya memberi penyuluhan tentang budidaya yang baik, namun sudah mengarah pada budidaya yang menguntungkan. Tentu saja dengan memperhatikan kaidah-kaidah kemanusiaan, semacam penggunaan pestisida yang tolerantif.

Kesimpulan dari kritik yang dikeluarkan untuk deptan adalah :
1. Penyuluhan pertanian dari Pelita I sampai sekarang tidak berubah juga. Padahal sekarang sudah hampir 40 tahun, dan petani belum pernah sejahtera sejak dibina deptan.
2. Penyuluh tidak menyesuaikan kunjungan dengan jam kerja petani. Sehingga waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk bekerja, harus hilang hanya karena menerima tamu yang tujuan kedatangannya kurang jelas.
3. Penyuluh harusnya lebih dari 1, dan harus ada juga penyuluh dari sektor pengusaha, tidak melulu pegawai negeri, karena pengusaha lebih tepat jika memberikan pengarahan perihal tata usaha tani.
4. Perlu penyuluhan yang berlandaskan pada produk yang terintegrasi dan berkesinambungan. Komoditas yang disarankan untuk ditanam pun harus dilihat prospek bisnisnya. Jangan sampai petani yang hanya mempunyai lahan 500 meter disuruh menanam padi atau jagung. Sebagus apapun panennya tidak akan meningkatkan kesejahteraan mereka.
5. Penyuluh harus kembali memahami filosofi perihal visi dan misi deptan, jangan justru bikin petani kebingungan.

Buat bapak2 dari dinas, masukan ini bukan semprotan, tapi sebuah ajakan agar deptan lebih berkualitas dalam bekerja di masa yang akan datang.

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: