Skip to content

Logika Matematika vs Logika Sedekah

March 20, 2010

Forwarded dari TRASS dan milist jiran…
Posted by: “meizar_rendra” meizar_rendra@ yahoo.com
Date: Sat Feb 13, 2010 7:39 am ((PST))

Ketika saya makan di Warteg saya mendengar percakapan antara seorang entrepreneur dan seorang karyawan yang mengusik dan mengugah hati saya
Saya menduga ia seorang entrepreneur. Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, entrepreneur tersebut ternyata hanyalah seorang guru berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang saya dengar.

Satu kali mereka bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib mereka satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Mereka bercerita tentang dapur Mereka masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Mereka sama-sama bernasib “guru” yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara karyawan dan Guru adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula guru tersebut menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.

“Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis.”
“Maksud Bapak, saya nggak ngerti?”
“Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang.”
“Kenyataannya memang begitu kan pak?”, kata karyawan mengiayakan. “Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi.”
karyawan tersebut mencoba menegaskan pernyataan awalnya.
“Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?”
“Tidak ada. Habis.” jawab karyawn spontan.
Tapi Ia jawab masih ada. “Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga.”

Saya yang mendengarkan pembicaraan mereka mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?

“Pak, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis “, karyawan terliat seperti tak sabar untuk mendapat jawabannya.
“Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa’ keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC.”

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Guru tersbut seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.

“Terus, gimana caranya pak, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis dengan dimensi sedekah itu?”.
“Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona’ah, ridha dan syukur”.

Dari percakapan tersebut memang kadang kala kita salalu menghitung secara matematis namun ternyata dibalik hitungan matematis tersebut kita sadari kita telah menjadi hamba dunia,oleh karena itu dalam berusaha dan bekerja ternyata kita harus memikirkan hal hal lain diluar ruang lingkup kerja kita,ada rezeki orang lain dititpkan oleh sang Khalik ditangan kita yang harus kita sampaikan kepada yang berhak, sehingga sang Khalik akan berterimakasih kepada kita dan semakin memperluas rezeki kita

Semoga Bermanfaat n Mohon Maaf Kalau Sudah di Posting Sebelumnya

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: