Skip to content

Amanah Sebuah Peran

March 2, 2010

Kita pasti pernah mempunyai masa kecil. Kita pasti punya sejuta kenangan di masa kecil kita. Masa kecil dimana kita belum apa-apa sesungguhnya adalah juga guru bagi kita. Masa kecil mengajarkan kejujuran, keadilan, kebersamaan serta kebahagiaan hidup yang hakiki. Ingat bahwa siklus hidup manusia adalah sebuah perjalanan menuju ke masa yang ‘seperti’ masa kecil kita. Kita dulu tidak bisa berjalan, sukanya merepotkan orang lain, lalu bisa mandiri, lalu akan menuju ke masa merepotkan orang lain lagi. Lebih ekstrim lagi, kita dulu tak bernyawa, maka kelak juga akan tak bernyawa….

Dalam hidup yang ibarat secepat mampir minum ini, kita dititipi berbagai macam hal yang tidak semua orang sama. Selain harta, kita juga dititipi sebuah peranan. Sama seperti halnya harta, peranan juga harus kita jalankan sebaik mungkin. Ada diantara kita yang menjadi seorang guru. Ia berkewajiban membagikan ilmu dan menuntun akhlak seseorang yang telah mempercayakan keilmuan padanya. Ada yang menjadi seorang hakim. Ia wajib memutuskan perkara secara adil. Ada yang menjadi dokter. Ia wajib menolong -dalam arti yang sebenarnya- orang yang mengalami gangguan kesehatan untuk memberi arahan bagaimana supaya gangguan yang diderita bisa hilang. Ada seorang pengusaha. Ia bertugas untuk menghidupkan sektor ekonomi dalam sebuah masyarakat.

Banyak sekali peran yang diamanahkan kepada manusia di dunia ini. Dunia ini bagai sandiwara, kata almarhumah Nike Ardila, dimana setiap kita punya satu peranan yang harus kita mainkan. Lalu apakah ada orang yang mendapat amanah untuk menjadi seorang maling, pembunuh, pengkhianat, dan sebagainya? Itu adalah rahasia Sang Pencipta. Namun anggaplah makhluk-makhluk seperti itu hanyalah jelmaan setan, agar kita tergoda untuk menyimpang dari peranan kita. Kita tetaplah kita dengan peranan yang dipercayakan kepada kita. Kita akan dihadapkan pada banyak godaan sepanjang menjalankan peranan tersebut.

Diantara peranan tersebut, ada satu bidang yang sangat besar peranannya dalam masyarakat, yaitu peranan untuk menjadi seorang pemimpin. Disamping pemimpin, seseorang sesekali waktu juga diberi peranan untuk menjadi wakil dari beberapa orang untuk suatu urusan tertentu. Jika kita yakin bahwa peran yang kita mainkan ini adalah sebuah ujian dari Sang Pencipta untuk kemudian kita pertanggung jawabkan pada akhir masa nanti, seharusnyalah kita selalu memihak kepada orang-orang yang kita wakili.

Di Indonesia, rakyat yang jumlahnya ratusan juta ini diwakili oleh segelintir orang yang duduk di Senayan. Maka para wakil rakyat itu adalah orang yang dalam menjalankan peranannya harus memihak pada kebanyakan suara rakyat. Jika itu yang terjadi dan itu yang dilakukan, keseimbangan dalam masyarakat pun akan terjaga, seperti halnya alam yang akan berbuat baik pada kita jika kita berbuat baik pada mereka.

Masa kecil juga mengajarkan kepada kita bahwa pada kesempatan tertentu kita akan tergoda untuk berbuat licik, curang dan terkadang jahat. Namun pada kesempatan yang lain kita akan menyadari bahwa apa yang kita perbuat itu justru akan merugikan kita sendiri. Kita akan merasa kehilangan orang lain, mendapat musuh dan juga sama sekali tidak bangga pada diri kita sendiri.

Jika reformasi di negeri ini diibaratkan seorang anak yang belum sempurna baligh, maka keinginan untuk licik, curang dan jahat pastilah ada. Namun ada baiknya kita mulai sadar dari sekarang bahwa nanti kita akan menyesal sendiri dengan perbuatan semacam itu. Biarkanlah segala sesuatu berjalan dalam cengkeraman Sang Pencipta. Kita lakukan saja peranan kita sebaik mungkin.

Namun kita juga diajarkan keadilan dalam masa kecil kita. Ketika kita disakiti oleh teman, kemudian kita balik menyakitinya, dia tidak akan marah. Begitu pula jika wakil rakyat kita menyakiti kita, maka mereka tidak akan marah pula jika kita sakiti balik. Bahkan itu adalah hak kita, asalkan balasan kita tidak lebih parah dari mereka. Namun sebelum itu semua terjadi marilah kita berniat dalam hati untuk tidak saling menyakiti. Singkirkan setan-setan jelmaan di sekitar kita karena mereka hanya akan menjerumuskan kita ketika masa kita di dunia nanti berakhir.

Kisruh di DPR dalam pembahasan pansus century hari ini (2/3/2010) telah memberi kita pelajaran berharga betapa masa kecil adalah cermin dari kehidupan manusia yang sesungguhnya. Jika mereka (baca: para wakil rakyat) memandang peristiwa itu seperti mereka memandang masa kecil mereka, maka mereka akan segera insyaf dan melangkah kembali dengan hati yang sejuk dengan sebuah niat yang tulus ikhlas untuk melaksanakan amanah sebuah peran. Sama seperti kita. Kita hanya perlu hati yang ikhlas dan bersih untuk melangkah dalam melaksanakan amanah sebuah peran. Jika kita berbuat baik pada peran, maka peran pun akan berbuat baik kepada kita.

(posted by : Muhammad Eko Nugroho, March, 2nd, 2010)

From → political

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: