Skip to content

The ‘Negative’ Economic of Indonesian Football

February 13, 2010

Bicara masalah persepakbolaan Indonesia tidak akan pernah lepas dari yang namanya keprihatinan. Prihatin karena tak kunjug juga berprestasi, dan prihatin juga karena menjadi sebuah olahraga yang diminati orang banyak namun justru berdampak negatif bagi perekonomian. Padahal semestinya sepakbola bisa menjadi salah satu industri papan atas seperti halnya sepakbola eropa yang sudah selevel dengan bisnis real estate dan juga perbankan.

Sudah terlalu banyak catatan kelam bagi persepakbolaan Indonesia. Tragedi Mandala Krida, Yogyakarta dalam derby PSIM vs PSS (12/02/2010) hanyalah salah satu diantara sekian banyak fenomena kurang menyenangkan dari persepabolaan nasional. Tidak banyak masyarakat yang terkejut dengan hal itu. Kalaupun terkejut, rasa keterkejutan itu lebih kepada ‘Jogja’nya daripada sepakbolanya. kenapa terjadi di Jogja? Kenapa terjadi di daerah yang menjadi pusat kultur budaya Jawa yang adiluhung? Entahlah…

Sebelum ini, tragedi bonek dalam perjalanan dari Surabaya ke Bandung dan sebaliknya menunjukkan betapa sepakbola telah meluluh lantakkan tatanan ekonomi dan juga tatanan sosial masyarakat yang telah lama dibina. Pemprov Jawa Barat bahkan sampai turun tangan langsung lewat Wagubnya untuk menenangkan massa bonek agar tidak bikin ulah, karena kalau sampai itu terjadi akan banyak kerugian material yang diderita masyarakat kota Bandung. Namun malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Sehari sebelumnya bonek sudah ‘ngamuk’ di solo dan sekitarnya. Dan ketika perjalanan pulang ke Surabaya, banyak warga yang sudah menghadang di sekitaran lintasan kereta api dengan batu untuk dilemparkan ke kumpulan suporter yang menjejali gerbong kereta itu. Lalu bagaimana dengan jalannya sepakbola Persib vs Persebaya? Bodo amat…. Tidak penting untuk dibahas. Begitu kira-kira pikiran para wartawan ketika itu.

Belum lagi masalah insiden Kediri dan beberapa daerah lain. Korban yang berjatuhan dari kerusuhan2 suporter sepakbola sudah tidak terkira lagi jumlahnya. Bukan hanya luka tapi juga merenggang nyawa.Lalu pertanyaannya, sampai kapan kejadian-kejadian konyol semacam ini berlangsung?

Hal yang tidak kalah anehnya juga terjadi pada kebijakan daerah yang memberi alokasi sebagian APBDnya untuk memfasilitasi tim daerah. Masih mending jika dan yang digunakan itu untuk pembinaan bibit-bibit muda ataupun perbaikan sarana dan prasarana, namun yang terjadi adalah untuk digunakan membeli pemain asing. Nah? Sementara masih banyak persoalan-persoalan sosial yang menimpa masyarakat, pemda sudah berfoya-foya demi sepakbola. Beruntung kebijakan itu mulai direfisi kembali.

Kemudian juga PSSI. Masih ingat Hendry Mulyadi? Yang kesal pada PSSI dengan masuk lapangan ketika timnas Indonesia bertanding melawan Oman? Seperti itulah PSSI. Hendry hanyalah salah satu representasi dari perasaan jutaan anak bangsa. Hal ter-aneh yang dilakukan PSSI belum lama ini adalah dengan mencalonkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Sementara kita lolos saja belum pernah, PSSI sudah berani2nya maju. Beruntung pemerintah kita cukup bijak dengan tidak memberikan dukungan pada hasrat PSSI tersebut. Karena kalau sampai memberi dukungan, berapa dana yang akan dikeluarkan, dan hasilnya sudah bisa kita tebak – 90% akan menyerupai kasus sipadan-ligitan yang menghabiskan dana bermilyar-milyar untuk mempertahankannya namun akhirnya lepas juga-.

Lalu bagaimanakah sepakbola di Indonesia seharusnya? Memang kita harus fair juga, persoalan sepakbola tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negara2 berkembang lain persoalannya nyaris sama. Bahkan Italia yang ‘simbah’nya sepakbola pun dilanda masalah kerusuhan suporter juga akhir-akhir ini. Inggris bolehlah dibilang kiblatnya sepakbola. Spanyol juga. Namun buat negara-negara lain tidaklah semoncer Inggris ataupun Spanyol dalam hal industri sepakbola.

Maka jika kita menginginkan liga kita seperti Inggris, rasanya masih terlalu jauh. Jepang saja yang pernah berupaya menembus pasar asia dengan Liga J-nya, sekarang masih melempem juga. Amerika, yang negara adidaya, sama saja. Jadi kita haruslah realistis. Untuk membuat sepakbola menjadi bisnis di Indonesia belumlah waktunya. Sepakbola sebaiknya digunakan sebagai ajang olah raga serta ajang komunikasi antar daerah untuk mempererat hubungan. Juara dalah hal sepakbola belum tentu juara dalam hal kemajuan daerah.

PSSI perlu juga meninjau ulang sistem persepakbolaan di tanah air. Kalau perlu dibuatkan peraturan bahwa tidak boleh ada pemain asing. Tujuannya agar pesepakbola nasional mendapat kesempatan untuk tampil di negeri sendiri. Dan itu akan lebih mengena. Dana masyarakat yang masuk APBD tidak melayang kepada pemain luar. Kalau perlu pemain yang memperkuat suatu daerah adalah pemain dari daerah itu juga.

Begitu pula suporter. Harus ada seleksi dalam hal suporter. Setidaknya suporter yang datang benar-benar sudah memiliki tingkat kedewasaan, sehingga sudah siap apapun hasil pertandingan. Jika misal tribun suporter diisi oleh serombongan ABG yang masih labil emosinya, komdis bisa saja membatalkan pertandingan dengan alasan keamanan.

Lalu PSSI, jangan aneh2 lah….

Jika begitu, maka tren sepakbola yang cenderung negatif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah bisa berkurang dan bahkan berbalik menjadi positif. Meskipun untuk bisa menyamai Inggris bisa dikatakan masih mimpi (maaf bro, bukan pesimis, cuma kalau misal kita mengandalkan pendapatan dari penjualan hak siar, siapa sih yang mau nonton liga kita? terutama orang luar negeri? kalo kita liat tim daerah kita dengan antusias wajarlah, tapi kalau dibandingkan dengan pasar liga Inggris yang miliaran itu, ga sebanding kan? Aku aja nonton liga Jepang males….) tapi indutri sepakbola tidaklah melulu menjadi industri yang selalu menghasilkan laba negatif. Dan ada baiknya kita selalu ingat pada tujuan utama sepakbola sebagai salah satu cabang olahraga adalah untuk menyehatkan masyarakat, karena kalau masyarakat sehat semangat mereka pun akan berkobar dengan dahsyat, seperti kata pepatah mensana in corpore sano, didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Untuk pertumbuhan ekonomi? Tentu bukan dari dunia olahraga dan tentu akan tercapai jika jiwa kita kuat.

From → social

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: