Skip to content

Sampah Plastik

February 9, 2010

Pemda DKI Jakarta bertekad untuk menjadikan Jakarta sebagai daerah bebas kantong plastik pada tahun 2011. Sebuah komitmen yang tergolong unik untuk ukuran Pemda, namun patut kita apresiasi setinggi langit. Kebijakan ini sejalan dengan UU No 18/2008 tentang Pengurangan, Pengolahan, dan Pemanfaatan Sampah. Alasannya memang masuk akal, plastik adalah jenis sampah yang sulit terurai. Konon butuh waktu 500 tahun -toh kita tidak mungkin melakukan uji coba untuk kurun waktu selama itu-.

Lalu kalau begitu, kantong plastik akan diganti dengan apa? Masih banyak yang bisa menggantikannya, meski untuk barang-barang tertentu akan menimbulkan masalah juga. Ibu-ibu yang berbelanja di toko swalayan barangkali tidak terlalu repot karena kantong plastik bisa diganti dengan kertas daur ulang. Bahkan ini akan menumbuhkan industri daur ulang yang notabene akan menghidupi banyak keluarga di Jakarta dan sekitarnya yang berprofesi sebagi pemulung. Rumah makan pun demikian. Namun bagaimana dengan warung bakso, bakmi, sop ayam yang hendak melayani pembelinya yang ingin menyantap di rumah? Saya bahkan belum punya bayangan seperti apa pengganti yang pas. Bisa memang pakai tempurung kelapa, tapi bagaimana merapatkannya? Atau pakai bambu? Atau pembeli diwajibkan membawa wadah dari rumah? Atau wadah dipinjamkan? Atau tidak boleh dimakan di rumah? Entahlah, barangkali ini PR besar buat kita semua.

Kenapa kita? Kok bukan Pemda DKI Jaya? Karena apa yang dicetuskan oleh pemda DKI tersebut sebenarnya adalah cocok juga untuk diterapkan di segala penjuru di tanah air. Sebenarnya kita masih bisa hidup tanpa penemuan2 mutakhir yang kebanyakan justru tidak bersahabat dengan alam. (misalnya saja Alfred Nobel yang agak menyesal juga setelah menemukan makhluk yang bernama dinamit). Sebenarnya pula kalau kita mau konsisten kembali ke segala sesuatu yang alami, bumi ini bahkan tidak akan hancur seperti sekarang. Kita patut pula bercermin dari kerajaan binatang yang hidup di hutan. meskipun mereka tidak bisa membaca dan menulis seperti kita, namun mereka bisa memelihara alam dengan sangat baik, dan bahkan sempurna. Binatang apa yang merusak alam? Bandingkan dengan manusia?

Harapan lebih jauh, tentunya setelah kebijakan meniadakan kantong plastik ini akan diikuti pula dengan kebijakan-kebijakan serupa di daerah lain. Lebih baik lagi kalau kebijakan-kebijakan lain yang bersahabat dengan alam juga turut mengikuti, semisal penutupan pabrik-pabrik pestisida. Sementara informasi yang saya dapat, pabrik asbes sudah dilarang beroperasi di Indonesia. Jadi tren kembali ke alam ini benar-benar ditindaklanjuti bersama.

Belajar dari pertanian organik, ketika saya bertemu dengan seorang ahlinya, bahwa sebenarnya bercocok tanam tanpa menggunakan urea, ZA, KCl, TSP, pestisida sintetis buatan pabrik, pada dasarnya adalah bisa. Dan ketika hal itu dikatakan, di depan kami adalah sepetak hamparan padi yang tumbuh lebat dengan murni mengandalkan pupuk-pupuk dan obat-obatan organik. Jika kita berbuat baik pada alam, pastilah alam juga akan berbuat baik pada kita. Semua akan terjadi kalau kita mulai membudayakan kehidupan yang selaras dengan alam, mulai dari hal yang paling kecil.

From → culture

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: