Skip to content

Gaji Menteri Naik

October 29, 2009

Menkeu yang baru -saja dilantik- baru saja mengumumkan bahwa gaji menteri dan tunjangan2 serta fasilitas2nya selama ini dinilai kurang layak, sehingga sudah sepantasnya untuk ditingkatkan. Menteri2 yang lain mengamini, sementara para oposan dan rakyat jelata yang hanya kebagian peran menjadi penonton memprotes mentah-mentah.

Bagi orang Jawa, membicarakan upah sebelum bekerja adalah tabu. Apalagi menteri adalah jabatan politik yang ‘niat’ awalnya adalah untuk mengabdi. Orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk kemajuan sebuah tatanan masyarakat, bisa dipastikan akan mendapat sanjungan yang luar biasa, bahkan bisa disebut pahlawan. Jika statusnya sudah menjadi pahlawan, maka nama harumnya akan dikenang sepanjang masa meski jasadnya sudah tak mampu lagi bergerak.

Namun ketika jasa yang diberikan ‘kok’ ternyata masih meributkan imbalan, sepertinya sanjungan dari masyarakat, apalagi untuk memberi gelar pahlawan dari lubuk hati yang paling dalam -bukan atas dasar keputusan dewan yang menggunakan sistem voting- tentulah akan sangat sulit didapat.

Padahal gaji menteri yang 18 juta bukanlah jumlah yang sedikit. Okelah para penguasa bisnis atau eksekutif perusahaan-perusahaan besar bergaji jauh lebih tinggi dari itu, tapi mereka kan sama sekali tidak punya kesempatan untuk menjadi pahlawan negara? mereka tidak mungkin menjadi selebritis politik, popularitas mereka tidaklah sementereng para menteri. Singkatnya, mereka tidak mungkin dikenang. Lagipula kalo saja para menteri mau sedikit berhemat dengan menggunakan mobil yang asal pantas saja, tidak mengejar kemewahan, akan jauh lebih bayak penghematan yang didapat. Boleh lah menteri mengedepankan social cost sebagai alasan, semisal menyumbang ke tempat teman yang hajatan atau ada proposal yang masuk, tapi hal itu seharusnya bisa ditangkis dengan sosialisasi kayak semisal dilarang mengajukan bantuan kepada menteri, karena gaji menteri hanya dukhususkan untuk kehidupan sehari-hari, titik. cukup. Hajatan? nyumbang saja semampunya. Yang punya hajat pasti maklum, toh sudah ada sosialisasi.

Apalagi kalau para menteri menggunakan mobil yang ala kadarnya, maka rakyat akan mencontohnya, dan gaya hidup Indonesia tidaklah terlalu glamour. Bisa dibayangkan kalau rakyat Indonesia tidak lagi silau pada mobil2 mewah, uang yang seharusnya untuk beli mobil bisa dialokasikan untuk pemberdayaan ekonomi lemah, pemerataan ekonomi makin meningkat.

Jadi sebenarnya menjadi menteri itu memiliki nilai sosial yang tidak bisa diukur dengan rupiah…. tapi ketika nilai sosial yang ada ingin diuangkan, sepertinya persepsi masyarakat akan berubah.

Kalau ada pertanyaan, lah… kalau gaji menteri kecil, tar siapa yang mau jadi menteri? Asalkan gaji tersebut sudah cukup untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga, saya yakin masih banyak orang yang mau jadi menteri. Karena disitulah kesempatan beramal saleh, membuat hidup penuh berkah.

From → political

One Comment
  1. tami permalink

    makasih ya atas artikel+infonya tentang gaji menteri…
    aku nyalin boleh dunks…
    mau buat makalah. da tugas we….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: