Skip to content

Belajar dari Kasus Batik

October 9, 2009

Setelah wayang dan keris, batik Indonesia pada tahun 2009 ini akhirnya berhasil memperoleh pengakuan dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB, UNESCO, sebagai warisan budaya milik Indonesia di dunia.

(pematenan batik oleh malaysia)Namun ada banyak cerita menarik dibalik kasus tersebut. Kita tahu bahwa batik sempat heboh karena dipatenkan oleh Malaysia, sama seperti halanya kekayaan bangsa yang lain. Kasus ini telah memerahkan telinga seluruh bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, batik yang memang warisan leluhur dan turun temurun dilestarikan oleh generasi penerusnya sampai sekarang, tiba-tiba saja dipatenkan oleh orang lain, yang artinya kalau kita melakukan aktivitas yang berhubungan dengan batik, termasuk aktivitas komersial, kita harus minta ijin dulu pada Malaysia, termasuk memberikan royalti kepada mereka jika mereka tidak berkenan memberi ijin secara cuma-cuma. Memang, batik lahir sebelum peraturan mengenai hak cipta dan hak paten mengemuka, tapi memberi imbalan kepada orang yang tidak memberi kontribusi pada hasil karya yang kita buat, apa pantas?

Dan setelah penetapan UNESCO pada tanggal 2 Oktober kemarin, kita pantas bersyukur dan bangga bahwa batik kembali dinobatkan menjadi milik kita. Masyarakat pun meresponnya dengan gegap gempita, diantaranya ada hari wajib batik pada beberapa hari setelah penetapan. Ke depan, kemungkinan besar berbagai kegiatan yang sekiranya bisa menyertakan cerita batik di dalamnya, akan dimanfaatkan untuk mengkampanyekan batik Indonesia. Desain-desain ruang kantor pun akan mulai dihiasi pula oleh batik. Bahkan ‘mungkin’ akan ada perhelatan sepakbola atau cabang olah raga yang lain yang menampilkan nuansa batik di dalamnya, semisal kostum team atau kostum wasit. Siapa tahu?

Tetapi kalau kita mau menelaah ke belakang, sebelum Malaysia mengklaim batik sebagi milik mereka, ada baiknya kita introspeksi diri, seperti apakah apresiasi kita terhadap batik? Sepertinya kita harus jujur bahwa dulu kita menganggap batik adalah budaya yang sering kita abaikan. Mengenakan batik terkesan kuno dan ketinggalan jaman, sehingga kita lebih suka mengenakan pakaian-pakaian glamour supaya memiliki image modern. Bukan hanya batik, namun juga budaya-budaya tradisional yang lain seolah terpinggirkan oleh arus globalisasi. Maka jika kemudian ada negara lain yang memelihara sesuatu yang ‘sepertinya’ terbuang, siapa yang salah?

Euforia berbatik ria yang terjadi saat ini bagaimanapun juga tidak lepas dari ulah Malaysia. Meski agak terkesan skeptis, namun rasanya kita juga pantas ‘sedikit’ berterima kasih kepada mereka yang telah mengingatkan kita agar lebih mencintai budaya dalam negeri. Pelajaran yang kita bisa petik dari kasus ini adalah bahwa untuk hari-hari mendatang kita harus memberikan apresiasi lebih terhadap budaya warisan nenek moyang kita yang sangat banyak itu. Bukan hanya batik, tapi juga yang lain. Budaya warisan itu sudah berusia ratusan tahun sehingga ibarat pohon, akarnya sudah dalam dan tidak akan mudah rubuh.

Kita patut belajar dari India, China, Korea dan juga Jepang. Mereka memiliki kebudayaan yang sama kayanya dengan Indonesia. Namun mereka menerapkan apa yang mereka miliki dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari pakaian adat, desain rumah, bahkan tulisan tradisional yang hanya dimengerti oleh mereka pun menjadi menu keseharian. Dengan begitu mereka bisa memiliki identitas diri yang kuat dan tidak terkesan sebagai bangsa yang mudah hanyut oleh perubahan yang tidak jelas arahnya. Dan mereka menjadi begitu bermartabat dan terhormat dengan apa yang mereka lakukan.

Kita pun bisa melakukan hal yang sama. Setelah dikejutkan oleh batik ini, semoga kebangkitan untuk menjadi manusia yang berbudaya akan terlaksana. Kenapa Malaysia membajak budaya kita? Karena mereka relatif belum lama merdeka dan tidak diwarisi budaya sekaya budaya kita. Sepatutnyalah kita bersyukur atas kekayaan budaya yang kita miliki.

From → culture

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: