Skip to content

Mohon Doa Restu

Insya Allah segera launching…. segera rajin posting…..

mr one

Mohon Doa Restu agar rencana pendirian sekolah Bahasa Inggris ini diberikan kelancaran….

Borobudur Brocure Numpang Bentar Om

Ini adalah brosur borobudur tour bisnis kami biar punya duit trus bisa ngeblog…. kih kih

Borobudur Brochure JPG

Borobudur Brochure JPG 2

Raihlah Mimpi dengan Hati

Siang ini waktu ku lewatkan pada seorang tokoh agrobisnis yang pemikirannya benar-benar frontal namun penuh makna. Setelah mencoba mensejahterakan petani lewat perjuangannya di organisai Gabungan Kelompok Tani, sekarang sang bapak lebih banyak menyendiri, merenungi segala hambatan yang ia alami selama ini.

Semua seolah pernah dirasakannya. Kekayaan, popularitas, jabatan, pengaruh di masyarakat, ajaran yang di ‘gugu’ oleh banyak orang, dan tentu saja dengan itu semua, kata-katanya bisa ditukar dengan rupiah dalam seminar. Tapi sekarang bapak ini seolah sudah tidak mengharapkan itu semua lagi. Ia hanya ingin petani sejahtera, dan ia sadar itu bukan hal mudah untuk dilaksanakan mengingat benturan birokrasi yang membuatnya memilih untuk mengasingkan diri. Demi kode etik, saya tidak bisa menyebutkan nama si bapak dalam artikel ini. Anggap saja bapak ini bernama Pak Bina, karena fungsinya sebagai pembina petani.

lahan sayur

Pak Bina sekarang menyewa sebuah lahan di lereng gunung seluas setengah hektar, menyulapnya menjadi kebun sayur, dan membangun sebuah rumah mungil di sudut lahan. Sendirian hidup di hutan beliau merasa tenteram dengan kehidupannya saat ini, jauh dari hiruk pikuk keduniaan yang ternyata hanya menghasilkan kepuasan sesaat. Dengan kesendirian, rupanya Pak Bina sekarang menjadi sosok relijius, lebih memaknai hidup dengan rasa syukur bagaimanapun caranya.

Berdiskusi dengan bapak satu ini memang seperti berdiskusi dengan seorang filusuf. Kita dibawa ke segala penjuru dunia sebelum sampai pada sebuah kesimpulan. Tetapi bagaimanapun diskusi ini cukup bermakna, sekaligus cukup membuat miris bagi siapa saja yang masih punya nasionalisme terhadap bangsa Indonesia.

cottage_a_ext

Setelah secangkir kopi dan sepiring singkong goreng disajikan di teras rumahnya yang sejuk, saya mengawali pembicaraan dengan sebuah pertanyaan, bagaimana prediksi beliau menghadapi perdagangan bebas ASEAN tahun depan.

“Itu bagus”, sambutnya mantap. Lalu dijelaskannya lah peluang akan pasar yang makin luas. Kita bisa menjual aneka produk kemana saja tidak lagi terbatas pada pasar dalam negeri. Ketika saya kejar tentang kemungkinan balik dimana justru produk luar yang membanjir dan kita yang kewalahan menerima barang murah, beliau tetap ngotot dengan argumennya bahwa kita tetap bisa menang asal disiplin.

Tetapi yang saya tangkap dibalik persetujuannya adalah justru pendapat yang berkebalikan. Artinya, saya merasa bahwa sebenarnya jawaban yang disiapkannya adalah, “kayak gitu kok masih ditanyakan”. Artinya pasar bebas bagaimanapun akan merugikan bangsa Indonesia, tanpa perlu banyak alasan.

Hal ini tersirat dari cerita Pak Bina berikutnya. Bahwa ketika beliau jaya, beliau banyak berhubungan dengan pegawai-pegawai pemerintah yang terkait dengan bidang pertanian. Tetapi para oknum tersebut bukannya membuat petani sejahtera, namun justru memperalat petani untuk menarik dana proyek, dan setelah dana turun maka uang itu dihambur-hamburkan. Bagi sana bagi sini, sebagian saja yang sesuai peruntukannya, pembangunan pertanian. Mentalitas penguasa di bidang pertanian sudah hancur lebur tidak ada lagi yang namanya integritas. Visi dan misi departemen pertanian hanya pepesan kosong saja, intinya adalah membuat program fiktif agar dana cair dan jatuh ke tangan oknum.

Beliau yang sesekali menyisipkan ayat Al Qur’an dalam mempertajam pendapatnya, menyebutkan bahwa kerusakan akhlak yang sudah sedemikian masiv ini membuat tingkat kepercayaan pada orang Indonesia berada pada titik nadir. Seorang penjual benih padi, bisa saja memasukkan padi yang dipungut dari sembarang tempat ke dalam plastik, lalu ditempeli label, dijual dengan harga 2-3 kali lipat dari harga yang seharusnya. Kayak gitu kok pakai tanya dampaknya pada perdagangan bebas?

Di bidang birokrasi, pemerintah tidak paham bagaimana seharusnya merekrut petugas penyuluh lapangan (PPL). Dia menyayangkan PPL yang notabene adalah pegawai, justru menjadi seorang instruktur para petani ketika petani dalam masalah. Dicontohkannya nasihat Bob Sadino, jika mencari instruktur renang, carilah orang yang bisa berenang. Jangan hanya teori. Jadi, menurut beliau, PPL harusnya pengusaha agrobisnis yang sudah berhasil. PPL datang di siang hari ketika petani mencangkul adalah juga sebuah kesalahan fatal. “Bagaimana petani bekerja, kalau jam kerjanya diganggu dengan kunjungan PPL, undangan rapat ke dinas, dan sebagainya?”, sambungnya tegas.

Aku hanya manggut-manggut dibuatnya. cerita selanjutnya lebih mencengangkan. Banyak oknum PPL yang sengaja meminta petani untuk memberikan balas jasa atas kemudahan akses proposal yang telah diusahakannya. Bayangkan jika 1 PPL membina 20 kelompok tani, dan masing-masing memberi upeti kepadanya, gajinya sebulan seolah menjadi tidak berarti lagi jika dibandingkan dengan upeti yang diterima. Bukankah ini korupsi? Tapi petani memberikannya secara suka rela?

Aku hanya termenung membayangkan nasib bangsa ini nanti bagaimana. Bagaimanapun kalau pertanian secara nasional ingin berhasil, maka harus ada komandannya, dalam hal ini pemerintah. Kalau pemerintah diisi oleh orang-orang korup yang lebih mementingkan perutnya sendiri, bagaimana pertanian bisa maju?

Di akhir diskusi si bapak menyampaikan petuah yang menyejukkan. Bahwa dulu beliau berapi-api semangatnya membangun Gapoktan sampai mendapat penghargaan menjadi gapoktan terbaik nasional. Setelah itu beliau bermimpi menjadikan Gapoktan-nya menjadi Gapoktan percontohan nasional. Berbagai strategi dan kerja keras sudah dilakukannya. Termasuk kampanye kepada seluruh kelompok tani agar tidak memberikan apapun kepada PPL jika mendapat bantuan dari pemerintah.

Rupanya banyak pihak -terutama oknum pegawai pemerintah- yang tidak suka dengan kebijakannya. Perlahan-lahan beliau pun disingkirkan. Mulai dari jebakan undangan rapat yang tidak sampai kepada beliau sampai dengan upaya adu domba dengan menjelek-jelekkan nama beliau di mata petani, bahkan sampai kepada tuduhan penyalah gunaan anggaran, akhirnya si bapak memutuskan untuk menjauh dari hiruk pikuk dunia pertanian yang sudah melambungkan namanya. Beliau tidak mau berhubungan dengan orang dinas yang menyengsarakan petani, menyewa lahan di tempat terpencil, menerima konsultasi para petani yang masih menaruh kepercayaan padanya, dan tidak mau tahu lagi ketika mengetahui gapoktan yang dipimpinnya dulu sekarang vakum.

Beliau tidak menyalahkan siapa-siapa. Beliau merasa yang salah adalah dirinya. Dia merasa selama ini dirinya telah dikuasai oleh ambisi untuk mewujudkan mimpinya membuat sesuatu yang dahsyat, seolah semua bisa dilakukan dengan kedua tangannya tanpa melibatkan Sang Pencipta. Sekarang beliau merasa manakala kita punya mimpi, langkahkan kaki untuk wujudkan mimpi tersebut, tetapi hati tetap harus ingat bahwa berhasil tidaknya mimpi tercapai semua tergantung pada keputusan Allah SWT. Keseimbangan antara usaha dan do’a akan membuat hidup selalu merasa cukup. Dulu beliau merasa sangat kecewa saat semua mimpinya melayang… tapi sekarang beliau justru merasa bersyukur karena menemukan tujuan yang lebih indah… tempat dimana kita tidak memiliki rasa takut, benci dan kecewa terhadap apapun… karena beliau sekarang berada di tempat yang membuat hati tertata….

afta

Perdagangan bebas ASEAN nya gimana Pak?

Sebelum pertanyaan itu keluar, kuurungkan niat. jawabannya sudah kudapat.  Apapun yang kuharapkan dari AFTA, aku harus melangkah dengan menyertakan hati dan yakin bahwa semua membutuhkan keterlibatan Sang Pencipta, Allah Azza wa jalla…. Subhanallah…

Keikhlasan Hati

Mungkin benar jaman sudah benar-benar edan sekarang. Nilai-nilai luhur warisan nenek moyang sebagai bangsa timur telah luluh melebur seiring terbukanya kran globalisasi. Bisa jadi nasihat-nasihat mulia yang seharusnya menjadi pegangan hidup hanya jadi olok-olok belaka.

 

hati ikhlas

Dulu orang membuat lagu dengan perenungan yang serius. Sekarang lagu-lagu yang tidak edukatif bahkan sudah menjadi nyanyian anak-anak di bawah umur ketika berkumpul bersama. Mereka mengetahui hal-hal yang belum selayaknya mereka ketahui, dimana hal ini mengakibatkan proses kedewasaan mereka terlalu instan.

Lalu dimana fungsi pendidikan? Sertifikasi yang meningkatkan gaji guru bukannya membuat kualitas pendidikan membaik namun makin carut marut. Siswa melakukan tindakan-tindakan tak terpuji yang bahkan guru pun tidak mampu lagi mengendalikan, hingga akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Setelah keluar, apakah masalah kemudian selesai?

Agama yang bisa dijadikan benteng seolah tidak dihormati lagi. Ormas yang seharusnya berdiri untuk menata barisan mendakwahkan kalimat-kalimat Ilahi lama-kelamaan justru menjadi alat menuju kekuasaan. Sholat yang merupakan representasi ketaatan seorang hamba dengan sang pencipta, ternoda oleh undian berhadiah, yang membuat niat sholat menyimpang dari tujuan semula.

Sampai kapan ini berakhir?

Low Cost Green Car

Lewat peraturan pemerintah terbaru, sekarang kesempatan memperoleh mobil baru semakin mudah. Adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41/2013 tentang Regulasi Mobil Murah dan Ramah Lingkungan(Low Cost Green Car/ LCGC) yang memungkinkan pabrikan menjual mobil murah ke pasaran Indonesia. Daihatsu, Toyota dan Honda sudah meresponnya dengan kehadiran Ayla, Agya dan Brio Satya yang dilepas dengan harga 75 – 115an juta.

Image

Tentu saja ini akan baik untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu negara dimana banyak orang yang sudah bisa beli mobil. Tetapi melihat keadaan lalu lintas Indonesia yang semakin semrawut seharusnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang hasilnya bisa mengurangi kepadatan lalu lintas yang sudah di atas kewajaran. Mobil murah jelas akan membuat jalan-jalan makin padat, makin macet. Rakyat Indonesia selalu terbukti bermental konsumtif. Jadi respon akan mobil2 murah seperti ini pasti sangatlah tinggi. Sementara mobil-mobil tua tetap saja diperbolehkan berkeliaran di jalanan.

Gubernur Jakarta, Jokowi, sudah menyampaikan keluhannya pada kebijakan tersebut. Tetapi pemerintah bergeming. Dengan dalih memberi kesempatan warga menengah ke bawah untuk memiliki mobil, maka seharusnya semua pihak mendukung kebijakan ini, demikian penjelasan Menteri Perindustrian MS Ka’ban. Kecemasan Jokowi bisa dimaklumi. Usahanya mati-matian menertibkan pedagang di Tanah Abang bisa jadi sia-sia karena jumlah mobil meningkat pesat.

Bukan  hanya Jokowi, tetapi juga Pertamina, Peningkatan jumlah mobil akan meningkatkan pula konsumsi BBM. Sementara kita tahu BBM kita adalah BBM bersubsidi. Makin banyak konsumsi, makin banyak subsidi. Pertanyaannya apakah konsumsi BBM tersebut benar-benar bermanfaat? Atau pertanyaan yang lebih kritis, sudah siapkah rakyat jika BBM kembali dinaikkan?

Parahnya lagi peningkatan jumlah mobil di Indonesia tidak disertai dengan peningkatan aturan kedisiplinan dalam berkendaraan. Kasus Afriyani Susanti dengan Xenia maut-nya serta Abdul Qadir Jaelani anak 13 tahun yang bisa mengemudikan sedan mewah di jalan tol adalah contoh betapa lemah pengawasan pemerintah terhadap antisipasi kecelakaan di jalan umum. Bisa jadi kita lagi asyik minum es cendol di pinggir jalan, sebuah mobil menghampiri kita karena pengemudinya belum lihai.

Pertanyaan untuk Anda. Apakah anda punya SIM? Bagaimana cara anda mendapatkan SIM? Dengan ujian?Atau dengan jalur cepat?

Saya dapat SIM A sebelum saya punya keberanian mengemudi mobil di jalan umum. Saya keluar uang Rp. 400.000,-. Polisi menguji saya dengan ujian tertulis. Lalu diarahkan untuk ujian praktek di kantor polres. Tetapi disana cuma cukup foto dan selesai. Saya punya SIM A. Secara pribadi saya senang. Tetapi sebagai orang yang ingin melihat masyarakat Indonesia tertib dan disiplin, saya prihatin. Ini berarti orang yang tak bisa mengemudi sekalipun bisa punya SIM A dengan modal yang tidak sedemikian besar. Saya makin tercengang ketika melihat tariff SIM A di kantor Polres yang bahkan tidak sampai menyentuh angka Rp. 200.000,- . Benar- benar bisnis yang menarik, gumam saya dalam hati.

Entah seperti apa nasib negeri ini nanti jika kebijakan-kebijakan gila semacam ini terus berlanjut. Saya curiga ada uang di balik keputusan pemerintah. Saya hanya berharap jiwa pengabdian benar-benar tertanam di jiwa para pemimpin.

“Sukarno, Bendera Pusaka dan Kematiannya”

Tulisan ini memang bukan karya saya, tetapi kutipan dari seorang blogger ternama yang mengandung makna cukup dalam. Saya cantumkan dalam blog ini karena saya benar-benar tersentuh dengan kisah ini, dan ingin berkata pada Bung Karno bahwa semangatnya senantiasa menjadi ilham bagi saya dalam berkarya.
Portrait of Achmed Sukarno

Sukarno, Bendera Pusaka dan Kematiannya

 

Oleh: Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto           Monday, June 21, 2010 at 12:41pm

Tak lama setelah mosi tidak percaya Parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dan MPRS menunjuk Suharto sebagai Presiden RI, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam.

Bung Karno dengan wajah sedih membaca surat pengusiran itu. Ia sama sekali tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya.

Wajah-wajah tentara yang diperintahkan Suharto untuk mengusir Bung Karno tidak bersahabat lagi. “Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang”.

Bung Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. “Mana kakak-kakakmu?” kata Bung Karno.

Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata , “Mereka pergi ke rumah Ibu”  rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru.

Bung Karno berkata lagi  “Mas Guruh, Bapak sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara,”.

Kata Bung Karno lalu ia pergi ke ruang depan dan mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan, ia maklum, ajudan itu sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu.

 “Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, souvenir, dan macam-macam barang itu milik negara”.

Semua ajudan menangis Bung Karno mau pergi, “Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan” salah satu ajudan hampir berteriak memprotes tindakan diam Bung Karno.

“Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang dengan Belanda kita jelas hidungnya beda dengan hidung kita, perang dengan bangsa sendiri tidak..lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara”.

Beberapa orang dari dapur berlarian saat tahu Bung Karno mau pergi, mereka bilang  “Pak kami tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya”

Bung Karno tertawa “Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga hari itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa….”

* * *

Di hari kedua saat Bung Karno sedang membenahi baju-bajunya datang seorang perwira suruhan Orde Baru. “Pak, bapak segera meninggalkan tempat ini”

Beberapa tentara sudah memasuki beberapa ruangan. Dalam pikiran Bung Karno yang ia takuti adalah bendera pusaka. Ia ke dalam ruang membungkus bendera pusaka dengan kertas koran lalu ia masukkan bendera itu ke dalam baju yang dikenakannya di dalam kaos oblong, Bung Karno tahu bendera pusaka tidak akan dirawat oleh rezim ini dengan benar.

Bung Karno lalu menoleh pada ajudannya Saelan. “Aku pergi dulu” kata Bung Karno hanya dengan mengenakan kaus oblong putih dan celana panjang hitam.

“Bapak tidak berpakaian dulu” Bung Karno mengibaskan tangannya, ia terburu buru. Dan ke luar dari Istana dengan naik mobil VW kodok, ia minta diantarkan ke rumah Ibu Fatmawati di Sriwijaya, Kebayoran.

Di rumah Fatmawati, Bung Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya kosong. Ia sudah meminta agar Bendera Pusaka itu dirawat hati-hati. Bung Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun yang tumbuh di halaman.

Kadang-kadang ia memegang dadanya, Ia sakit ginjal para,h namun obat-obatan yang biasanya diberikan tidak kunjung diberikan. Hanya beberapa minggu Bung Karno di Sriwijaya, tiba-tiba datang satu truk tentara ke rumah Sriwijaya.

* * *

Suatu saat Bung Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri yang orang Bali untuk jalan-jalan. Saat melihat duku Bung Karno bilang “Aku pengen duku.. Tri, Sing Ngelah Pis, aku tidak punya uang”  

Nitri yang uangnya juga sedikit ngelihat dompetnya, ia cukup uang untuk beli duku. Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan berkata “Pak bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil”

Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke Bung Karno “Mau pilih mana Pak, manis-manis nih” kata Tukang Duku dengan logat betawi.

Bung Karno berkata “Coba kamu cari yang enak”

Tukang Duku-nya merasa sangat akrab dengan suara itu dan dia berteriak  “Lha itu kan suara Bapak…Bapak…Bapak”

Tukang Duku berlari ke teman-temannya pedagang  “Ada Pak Karno…ada Pak Karno” serentak banyak orang di pasar mengelilingi Bung Karno. Bung Karno tertawa, tapi dalam hati ia takut orang ini akan jadi sasaran tentara, karena disangka mereka akan mendukung Bung Karno. “Tri cepat jalan”…..

* * *

Mendengar Bung Karno sering ke luar rumah, maka tentara dengan cepat memerintahkan Bung Karno diasingkan.

Di Bogor, dia diasingkan ke Istana Batu Tulis dan dirawat oleh: Dokter Hewan …..

Lalu Rachmawati datang dan melihat ayahnya, ia menangis keras-keras saat tahu wajah ayahnya bengkak-bengkak dan sulit jalan, Rachmawati adalah puteri Bung Karno yang paling nekat. Malamnya ia memohon pada bapaknya agar pergi ke Jakarta saja dan dirawat keluarga.

“Coba aku tulis surat permohonan pada Presiden” kata Bung Karno dengan mengucurkan air mata. Dia menulis surat dengan tangan bergetar, dan pagi-pagi sekali Rachma ke Cendana, rumah Suharto.

Di Cendana ia ditemui Bu Tien yang kaget karena ada Rachma di sana. Bu Tien memeluk Rachma dan di saat itu Rachma bercerita tentang nasib bapaknya, hati Bu Tien rada tersentuh dan menggenggam tangan Rachma lalu membawanya ke atas, ke ruang kerja Pak Harto.

“Lho Mbak Rachma ada apa?” Kata Pak Harto dengan nada santun,

Rachma-pun menceritakan kondisi ayahnya.

Pak Harto berpikir sejenak dan dia menuliskan memo untuk diperintahkan kepada anak buahnya, agar lalu dia dipindahkan ke Wisma Yaso, yang sama sekali tidak terawat. Kamar Bung Karno sudah berantakan sekali, bau dan tidak diurus. Bung Karno tidak boleh ke luar kamar. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu.

Dokter yang diperintahkan untuk merawat, Profesor Mahar Mardjono sampai mau menangis, saat tahu bahwa semua obat-obatan yang biasa digunakan oleh Bung Karno, dibersihkan dari laci obat atas dasar perintah Perwira Tinggi.

Mahar hanya bisa memberikan vitamin dan Royal Jelly, yang sesungguhnya adalah madu. Jika sulit tidur, dia diberi valium, Sukarno tidak diberikan obat, bila terjadi pembengkakan ginjal.

Rumor yang mengatakan Bung Karno hidup sengsara, banyak beredar di masyarakat, Beberapa orang diketahui akan nekat membebaskan Bung Karno, tapi penjagaan sangat ketat.

* * *

Pada awal tahun 1970, Bung Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati.  Muka Bung Karno sudah bengkak.  Ketika banyak orang tahu Bung Karno datang ke rumah itu, orang banyak berteriak“Hidup Bung Karno … Hidup Bung Karno … Hidup Bung Karno !!!”

Sukarno yang reflek, karena ia tahu benar dengan suasana gegap gempita, tertawa dan melambaikan tangan, Tapi, dengan kasar tentara menurunkan tangan Sukarno, dan menggiringnya ke dalam. Bung Karno paham, dia adalah tahanan politik.

* * *

Masuk ke bulan Februari, penyakit Bung Karno parah sekali, Ia tidak kuat berdiri, Tidur saja, Tidak boleh ada orang yang bisa masuk.

Ia sering berteriak kesakitan, biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau. Ia berteriak  “sakit … sakit ya Allah ..”  

Tapi tentara terpaksa diam saja, karena disuruh komandan, Sampai ada salah satu tentara yang sampai menangis, mendengar teriakan Bung Karno di dalam kamar, sambil tangannya memegang senjata.

Kepentingan politik tak mungkin bisa membendung rasa kemanusiaan,  dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu. Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno menulis surat pada Suharto, dan mengecam cara merawat Sukarno.

Di rumah Hatta duduk di beranda,  ia menangis diam-diam mengenang sahabatnya itu.

Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi, untuk bertemu dengan Bung Karno. “Kakak tidak mungkin bisa ke sana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik”

Hatta menoleh pada isterinya “Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku,  Kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama, agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan di antara kita, itu lumrah, tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno terlalu sakit seperti ini”.

Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto, untuk bertemu Sukarno, Ajaibnya surat Hatta langsung disetujui,  ia boleh menjenguk Sukarno.

Hatta datang sendirian ke kamar Bung Karno yang sudah hampir tidak sadar, Tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. Bung Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan “Bagaimana kabarmu, No” kata Hatta,  Ia tercekat, mata Hatta sudah basah.

Bung Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta  “Hoe gaat het met Jou” kata Bung Karno dalam bahasa Belanda  -Bagaimana pula kabarmu, Hatta- .

Hatta memegang lembut tangan Bung Karno dan mendekatkan wajahnya,  Air mata Hatta mengenai wajah Bung Karno,  dan Bung Karno menangis seperti anak kecil.  

Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan rusak,  Kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini,  di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, Suatu hubungan yang menyesakkan dada.

Tak lama setelah Hatta pulang,  Bung Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945, Bung Karno menunggui Hatta di kamar, untuk segera membacai Proklamasi, Saat kematiannya, Bung Karno juga menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.

* * *

Mendengar kematian Bung Karno rakyat berjejer-jejer di jalan.  Rakyat Indonesia dalam kondisi bingung. Banyak rumah yang orang-orangnya menangis karena Bung Karno meninggal.

Tapi tentara memerintahkan  agar jangan ada rakyat yang hadir di pemakaman Bung Karno. Bung Karno ingin dikesankan sebagai pribadi yang senyap.  Tapi, sejarah akan kenangan tidak bisa dibohongi. Rakyat tetap saja melawan untuk hadir.

Hampir 5 kilometer orang antre untuk melihat wajah Bung Karno, Di pinggir jalan Gatot Subroto, banyak orang berteriak menangis. Di Jawa Timur tentara yang melarang rakyat melihat jenasah Bung Karno, menolak dengan hanya duduk-duduk di pinggir jalan, Mereka diusiri, tapi datang lagi. Begitu cintanya rakyat Indonesia pada Bapaknya. Tahu sikap rakyat seperti itu, akhirnya tentara menyerah.

Jutaan orang Indonesia berhamburan di jalan-jalan pada 21 Juni 1970. Hampir semua orang Indonesia yang rajin menulis catatan hariannya, pasti mencatat tanggal itu sebagai tanggal meninggalnya Bung Karno dengan rasa sedih,

Koran-koran yang isinya hanya menjelek-jelekkan Bung Karno, sontak tulisannya memuja Bung Karno.

Bung Karno yang sewaktu sakit dirawat oleh dokter hewan, tidak diperlakukan secara manusiawi,  Meninggalnya, dengan cara yang agung.  Jutaan rakyat berjejer di pinggir jalan, Mereka datang karena cinta, bukan paksaan.

Dan sejarah menjadi saksi bagaimana sebuah bangsa memperlakukan orang yang kalah. Walau pun orang yang kalah, adalah orang yang memerdekakan bangsanya, Orang yang menjadi alasan terbesar, kenapa Indonesia harus berdiri. Tapi diperlakukan layaknya binatang, Semoga. kita tidak mengulangi kesalahan seperti itu. …….
21 Juni – Tanggal meninggalnya Bung Karno.

Pariwisata Berbasis Syariah

Teman saya mengirim sebuah pesan via Blackberry seputar usaha franchise sebuah restoran yang sudah cukup terkenal. Ketika seorang Muslim ingin menjadi franchisee dari restoran ini, beliau terkejut dengan penjelasan pihak manajemen, dimana siapa saja yang mau bekerja sama, restoran ini mewajibkan penggunaan angciu dan  minyak babi dalam masakannya. Ketika sang Muslim ‘complain’ karena dua bahan masakan tersebut adalah haram , pihak restoran santai-santai saja menjawabnya. “Kita tidak memakai label halal, jika Anda tidak tertarik dengan bisnis kami ya sudah”.

Sebuah pesan singkat yang membuahkan keprihatinan ketika menyadari bahwa restoran ini sudah cukup terkenal dan berkembang pesat di Indonesia. Dan saya yakin banyak yang belum sadar bahwa masakan di restoran ini menggunakan zat-zat yang di haram kan secara syar’i. Dan sungguh miris bahwa yang seperti ini terjadi di sebuah negara muslim sebesar Indonesia. Akan lebih elegan jika rumah makan ini menyebutkan di dalam menu ataupun tempat-tempat srategis bahwa masakan yang tersaji menggunakan minyak babi dan angciu. Bukannya diam-diaman dan hanya menghilanghkan label halal, yang notabene kurang diperhatikan konsumen karena mereka keburu lapar.

Image

Ini adalah sebuah gambaran singkat betapa perlunya standarisasi kehalalan atau label syariah dalam restoran. Saya kemudian teringat pada sebuah diskusi singkat dengan seorang kawan saya dari Malaysia. Dia bilang bahwa alam Indonesia sangat indah dan ingin datang kembali. Tentu saja saya senang dengan sanjungan tersebut. Tetapi supaya tidak terkesan sombong dengan kekayaan alam yang dimiliki negeri ini, saya coba alihkan pembicaraan dengan topik yang lebih netral. “Kapan ada waktu? Kita jalan-jalan ke Thailand yuk…” . Dan jawaban yang saya peroleh sungguh di luar dugaan, “Daripada ke Thailand, lebih baik kamu ke Kinabalu atau ke beberapa tempat di Malaysia. Di Thailand susah mencari makanan halal”.

Alasan pertama mungkin agak subyektif karena mempromosikan negaranya, tetapi alasan kedua membuat saya manggut-manggut. Benar juga kata teman saya yang di Malaysia ini. Saya kira bermodalkan buku semacam lonely planet saja tidak cukup untuk datang ke sebuah negara non muslim seperti Thailand, karena saya juga perlu informasi rumah makan yang menyajikan makanan halal, dan murah.

Tetapi fakta yang saya dapatkan kemudian lebih mencengangkan. Bersumber dari Kompas yang terbit medio Juni 2013, saya dapat informasi bahwa ratusan ribu turis dari Timur Tengah yang notabene muslim, datang berwisata ke Thailand. Lho, bagaimana mungkin? Apakah mereka yang tinggal di dekat ka’bah tidak peduli dengan makanan halal dan haram? Sementara saya yang sudah setahun mengamati wisatawan luar negeri yang datang ke Yogyakarta –daerah tujuan wisata utama di Indonesia- jarang menemukan turis dari Timur Tengah.

Ternyata Thailand sudah menerapkan suatu paket wisata yang berbasis pada syariah. Meskipun mereka bukan negara muslim, namun mereka sadar bahwa umat Islam adalah juga pasar buat mereka. Maka mereka kemudian menyiapkan paket wisata khusus ke Thailand dengan memberikan fasilitas berupa hotel yang menyajikan makan-minuma halal, restoran juga demikian, member kesempatan untuk beribadah pada waktu sholat, sehingga wisatawan muslim tidak perlu khawatir bahwa mereka akan kehilangan kesempatan beribadah untuk dapat menikmati keindahan Thailand.

Lebih mencengangkan lagi, hal yang sama juga diterapkan di Korea, Jepang, China dan juga Malaysia. Jika Pemerintah Indonesia tidak segera berbenah, maka para wisatawan muslim dari Timur Tengah yang duitnya segunung itu tidak akan pernah tertarik untuk datang ke negeri ini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.