Hanafi dan Rakyat Jogja
Pemilihan walikota Jogja menghasilkan suatu kejutan, yaitu kekalahan Hanafi Rais.Putra tokoh reformasi tersebut sepertinya punya kans kuat untuk menang, karena selain kepopuleran ayahnya dan juga basis Muhammadiyah yang cukup kuat di Jogja, dia juga didukung oleh walikota yang sedang berkuasa, Hery Zudianto. Memang lawan yang paling layak diperhitungkan adalah Haryadi Suyuti, wakil walikota yang didukung oleh PDIP dan Golkar.
Tapi dari beberapa debat Hanafi tampak jauh lebih cerdas dibanding pasangan2 lain. Selain muda, cendekia, menawarkan perubahan, juga kesediannya untuk tidak menerima gaji menjadi kredit poin tersendiri bahwa misi pengabdian lebih tinggi apabila dibanding misi mencari proyek (maklum dia kan bosnya TK Budi Mulia). Apalagi tingkat intelektualitas Jogja bisa dikatakan cukup tinggi, sehingga kualitas calon lebih jadi pertimbangan daripada yang lain.
Tapi kenapa Hanafi kalah? Meskipun kalah tipis, tapi tetaplah kalah. Ada beberapa faktor. Memang belum banyak warga yang mengenalnya, termasuk sepakterjangnya di masyarakat. Juga tentunya sebagai tokoh politik sudah tentu Amien Rais punya rival yang pastinya tidak ingin jika klan Amien menang. Tapi yang luput dari pengamatan saya adalah bahwa salah satu partai yang mengusung Hanafi adalah Partai Demokrat, satu-satunya partai yang paling tidak simpatik terhadap rakyat jogja karena masalah RUUK. Dan sudah tentu sakit hati rakyat Jogja terhadap demokrat tak mudah terobati dalam sekejap. karena bagi orang Jogja, mangan ora mangan waton kumpul…. urusan hati itu lebih utama daripada perut…. Dan Hanafi masuk ke kereta yang salah…. Propaganda untuk rakyat -tanpa harus menyerang Hanafi- sangat mudah… apa sudi kita dipimpin oleh demokrat? Yang sudah jelas2 ingin menghilangkan keistimewaan Jogja?
Dan meskipun tidak menjanjikan perubahan yang berarti, Haryadi Suyuti, wakil incumbent adalah tempat pelarian paling pas…. dan sejarah memang sedang berpihak pada beliau… Zuhri, calon satunya, selain hanya diusung oleh PKS juga tidak punya jaringan birokrasi yang kuat.
